Puisi, edisi 367 Juni 2023
ini bukan ladang pembantaian. bukan juga lapang permainan. tapi di sini tubuh-tubuh rubuh. terjatuh dari sarang. para pembunuh tertawa riang. itu yang ditangkap mata orang luar. melihat kami dengan senapan di bahu. memburu yang tersisa dari alam. memburu yang tersisa dari malam.
kami tidak bohong menyukai pembunuhan. tidak berkata itu perintah tuhan. tapi kami tidak menembak yang tidak terbang. tidak menembak yang tidak dimakan. tidak membunuh jika tidak perlu. tidak menimbun cadangan hidup yang menunggu sebilah pisau. dengan imbal janji-janji surga.
ini bukan ladang pembantaian. hanya sisa ladang sagu. tempat pohon nipah mulai ragu. menjadi rumah para pemburu. mereka pergi meninggalkan kami. menuju kota. memburu yang tak ada di desa. sedang orang kota datang. memburu milik leluhur. meminta kami menjadi mereka. beradap dan berbudaya. terdidik dan berpolitik.
kami tidak bisa. tidak bisa menjadi mereka. tapi apa yang tersisa di sini. hanya ladang pembantaian. habis diburu sampai ke perut bumi. menyisakan perut kami yang kelaparan. karena teman kami pergi. jauh ke selatan.
***
2022
Aliurridha, pengajar di Universitas Terbuka. Menulis esai, puisi, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media. Terpilih sebagai ’emerging writer’ dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2023. Tinggal di Gunungsari, Lombok Barat. Bergiat di Komunitas Akarpohon.