Puisi, edisi 369 Agustus 2023
Perempuan itu muncul di ambang undakan batu, di senja yang masygul menjelang Sabtu. Ia serahkan sebungkus bibit bunga, “Tanamlah, mumpung musim masih basah.”
Lelaki itu tahu, tak jauh dari situ hujan menderu. Angin melirihkan suaranya di tikungan tebing cadas, meluruhkan dedaun kuning dan di ufuk hari berkemas.
Bayang-bayang bergerak di hulu hutan seolah isyarat bahwa malam, entah berapa banyak malam, belum bisa menyatukan mereka.
Perempuan itu menunjuk tubuhnya, tempat tumbuh padi dan palawija. “Mereka mendamba cahaya. Tapi hasratku keheningan.”
Ia ingin melupakan angin puyuh yang merubuhkan rumah, merebahkan yang angkuh kembali ke tanah.
“Kulesapkan mimpiku di sini, dalam umbi rumputan. Agar mereka merembaka, merekah seharum harapan. Tanamlah. Mumpung musim masih basah.”
Dahan-dahan mahoni yang kesemutan meliuk seperti tangan-tangan ingin memeluk tapi tertahan. Matahari lenyap, lembah dan langit lembayung senyap, namun nun entah di bagian mana dalam tubuh, ada kesiur angin: bergerak maju-mundur, antara ragu dan ingin.
Mungkin tak ada yang hirau pada mereka. Awan hitam dan awan putih berkisar di awang-awang, menggambar yin dan yang. Tetes gerimis di ubun-ubun tak menakik sentuhan magis pada malam yang santun.
Kuda hitam tak bertuan meringkik di tengah gurun— hamparan padang tandus, pucuk-pucuk pinus, duri kaktus, juga seorang lelaki lugu dan seorang perempuan bertato, pada kanvas Soneo. Aksara-aksara samar, asmara tak terujar. Kapal mengangkat sauh, berlayar ke yang kekal sonder pernah berlabuh.
***
2023
Langit Malam
Geriap musim kali ini
memaksaku jadi langit yang tak tidur,
bilapun malam tinggal residu,
karena kau menari di pelupukku
: gerakmu geliat masa silam,
gelakmu menyayat bagian dalam
Segala yang kukenang
melayang bagai kunang
Tak ada yang jatuh ke cinta,
sebab cinta merengkuh demi mengada
Jiwa yang terbelah menanggalkan mati,
menunggalkan hati
Kubayangkan kau angin lembah,
kalem dan tabah,
rindu membelai ranting bintang
membangkitkan musik yang diam,
mengungkai kembali surat-surat cinta yang hilang
Di manakah kata-kata yang kupilih ketika kasmaran,
yang kupilin bagai kalung merjan?
Kuingat hanya yang pertama,
yang mengawali tiap alinea: namamu
–nama yang merujuk bukan apa pun,
tak siapa pun, selain kau–
yang membuatku gagu
tiap hendak memanggilmu
Aku langit malam,
bentang langut mahakelam
Mata angin mengerjap di kakiku,
musim menggeriapkan kenangan tentangmu
***
2022
Bintang Pagi
Dini hari, kopi hitam yang diam
dalam cangkir tembus pandang
Bulan bagai bayi Februari,
merangkak di langit musim hujan Jejaknya menjelma angka di lembar kalender,
deret huruf yang mengukir nama penyair
Waktu tersendat dalam signal seluler
Musim terlambat mengarsir bayang air
Seseorang tugur di antara kesiur hasrat
dan kelopak-kelopak sajak tak tercatat
Angka-angka lalai kapan mereka lahir, tak mengerti kapan mati
Kata-kata selalu alpa menamai diri sendiri
Ia, yang anggun bertahta di lengang angan,
begitu nyata melampaui hitungan dan tulisan
Dini hari, sekejap ingin
didekap dingin
Selintas ilusi
bintang pagi
***
2021
Sitok Srengenge, penyair, novelis, dan esais.