Puisi, edisi 370 September 2023

Entah dari mana mula kisah tentang kau yang pemalas dan pengeluh. Sehingga ramai belaka yang membenci corak batikmu; cerah perawakanmu. Bahkan lancang pula menyepadankan kau pada kusut benang tidak terurai. Padahal sungguh, betapa adiluhung kau di hadapan Sang Kekasih, manakala keanggunanmu dipilihNya sebagai selimut kelahiran pembawa cahaya. Lihat, tak sedikit yang mahfum berbagi berkat menyambut hari jadimu. Atau perhatikanlah para salik, sekuat hati menepis bisikan lidah diperjalanan. Pun konon urita yang tersebar, pintu nirwana terbuka lebar saat kau membuka mata pagi membagi siar. Untuk itu wahai Soma, elokkah kau tangisi bisik-bisik penyebar kabar yang tak benar?
***

Selasa

Kata orang kau lahir dari planet merah yang adiwarna; laksmi, ranggi, juwita, bahari, kirana (apa saja yang elok nama diberikan). Sebilang jalan-jalan yang tumbuh di tubuhmu bukan main sepi; sehingga lajulah niat ingin bertemu bila segera tunai dikerjakan. Tapi di simpang kelokmu yang lain, sering pula kami lihat berduyun-duyun puan memburu koleksi terbaru dari biru langit sepatumu atau indah luhur gaun malammu, yang acap menyembur saat tiba hari miladmu. Tahukah kau, betapa keras kepala kau bagi sebagian orang —tentu yang belum mengenal-menyelamimu. Sedangkan bagi kami, kau manis belaka —bagai gulali di jari-jari mungil anak-anak pulang mengaji. Oleh sebab itulah, senang percuma kami menuliskan riwayatmu, Anggara —cincin keberuntungan yang hangat lembut mengelus ubun-ubun kepala.
***

Rabu

Dari Stasiun Senen ke Pasar Minggu, mengasa kami lewati Selasa yang keramat. Sekadar ingin menyaksikan rupamu ceria berseri. Amboi, bukan tanggung elok tampangmu bercahaya; jatuh asmaraloka tak berdaya. Benarkah kau lahir bersama nur pecinta? Seperti Budha yang cakap menampik bisikan lidah benua, serupa itu pula jisimmu berida memilih-memilah apa-apa yang patut lolos melewati tenggorokan. Sempadan menjadi lembut-haluslah perangai kepala suku kami setelah mendengar berita yang kau hantar; semua pun akhirnya bersukacita menabur derma ke sekeliling-sekitar. Namun sebelum hikayat ini kami selesaikan, benarkah duga sangka (selama ini) kalau kau sememang juru kunci tuju bahagia?
***

Kamis

Hei, Respati, ingatkah kau akan hari ini (betapa apik Vinci menakwilkan), Sang Gembala menjamu murid-muridnya dengan roti dan anggur yang kudus dari adnan? Tanpa risih dibasuhnya pula kaki-kaki mereka. Tidakkah kau paham isyaratnya? Tengoklah, betapa syahda putih pertemuan terakhir guru dan murid itu. Tiba menyembul si penghianat, dibawanya Juru Selamat ke Taman Getsemani; menjadi agunglah keesokan hari. Namun, jangan pula kau lupa Jupiter, kalau tapak-tapakmu yang terjal, senantiasa senang dipilih Sang Salik setiap kali tungkainya ia langkahkan, ke medan riuh perniagaan atau medan penumpasan kebatilan. Dan kemana pun ia syiarkan keluhuran Kekasih, selalu budi pekerti yang ia tonjolkan; semata agar kami tempuh jalan pertobatan, serupa Khaidir yang mencintai Tuhan.
***

Jumat

Sampai jua kami pada akhirnya di hari raya. Waktu manakala atok moyang kami lahir, masuk, dan terusir dari taman indah lagi menawan hati. Pun sempurna semua yang ada di langit maupun di bumi; saat dua tempat pembeda (hisab) masing-masing patuh menerima perintah. Dan sebagai rasa takzim kami kepada kau, Tuan Sukra, kami tinggalkan serta merta kesibukan mayapada. Lalu kami mandi, kemudian berkumpul menunaikan janji. Kelak (sebuah nubuat menukilkan) ketika bising suara yang memorak-porandakan buana muncul, menggiring apa saja masuk ke mulut maut, sudilah kau, Venus yang jelita, menyambut kami dengan sukacita. Sebab, tiada yang lebih tinggi dari kekecutan kami, selain dahsyatnya histeria yang kau semburkan.
***

Sabtu

Berhentilah cerewet bertanya, wahai cucu Yakub! Ini hari berhenti bekerja; pergi saja kau duka lara! Biarkan kami habiskan masa sekadar ini, untuk rehat, santai, atau tidur-tiduran. Sudah, jangan lagi berselisih, Tumpak! Terima saja apa pun yang telah Raditya, Soma, Anggara, Budha, Respati, dan Sukra berikan. Tidak bosankah kau menguber-uber candu marcapada? Percayalah, Saturnus, setiap daya-upaya pastilah melahirkan imbas. Bila belum sempat tuntas, masih ada esok bagi dendam purna kau balas. Mari nikmati belaka makanan yang berlimpah ini. Dan nyayikanlah kidung-kidung pengharapan semerdu mungkin, seperti Daud yang mesra berdoa. Supaya kasih sayang, terus mengalir ke seluruh tempat.
***

Ahad

Satu. Tiada Tuhan selain Dia; raja segala raja.
***
Akasia 11CT

Ilham Wahyudi. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya ‘Pertanyaan yang Menyelinap’ akan segera terbit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *