Puisi, edisi 383 Oktober 2024
aku akan mengenangmu, alena
sebelum senja ini selesai
mewarnai pelupuk mata.
di antara terumbu karang
kesunyian telah kubentang
lewat ketam bayang-bayang.
di sini, alena
kukenang kembali pulau dan nelayan
yang asin dan yang mulai asing.
karena segalanya mesti berakhir,
termasuk matamu dari mata penyair,
maka, kusimpan rindu yang amis itu
pada bait sajakku; dari waktu ke waktu
***
Yogyakarta, 2024
Di Puncak Ijen
di puncak kesepian ini
aku belajar membaca diri
mengeja kabut
yang datang dan pergi
juga mengingat usia
yang cepat beringsut
ke masa tua.
di sini,
tak ada air mineral,
tak ada sampah-plastik mengental,
karena hanya rindu yang kubawa sebagai bekal.
kemudian kuhayati keindahan kepundan
yang tercipta dari pancaran keindahanNya.
di sini,
magma menyimpan kegelisahan
seperti dosa yang dikandung dalam perasaan.
angin berdesakan dari berbagai penjuru
dingin berkelindan di sekujur tubuhku.
maka, luruhlah segala
sebab putih kasihNya
melebihi luas cakrawala.
***
Yogyakarta, 2024
Agus Widiey, lahir di Sumenep 17 Mei. Alumni pondok pesantren Nurul Muchlishin Pakondang, Rubaru, Sumenep. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Tulisannya tersebar diberbagai media, baik lokal maupun nasional. Anggota Komunitas Damar Korong.