Puisi, edisi 390 Mei 2025

Kota ini seluruhnya sudah menjadi artefak, Delisa.
meja makan berantakan dihinggapi debu.
yang tersisa hanya bekas gincu.
dan aroma tubuhmu di pundakku.

Perjalanan ini menghabiskan lima liter peluh, Delisa.
Alifakovac tetap menyala dihimpit banyak kepala.

Malam adalah hantu.
menakut-nakuti saban jemu.
dalam rekaman kepala- kita ini begitu asing.
demam, seketika aku teringat Malingping.
yang memberi teduh.
dalam sisa perjalanan menuju Alifakovac yang jauh.
***
Annuqayah, 2024

Saat subuh berkemas hendak pulang
bening mata ibu membentang
langit menyapa dengan salam.
dan aku melihat;
kesunyian tumbuh menanam saham.
angin melilit diri
ibu tersenyum di hadapan tungku
terbatuk memeram pilu.
matanya menyala;
seperti dimaksum dari petaka.
***
2025

Yuliyatul Unsiyah, lahir di Sumenep, 01 Januari 2003. Mahasiswa Universitas Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep. Anggota Forum Lingkar Pena (FLP). Aktif di komunitas Sanggar Sareang dan Teater Alfatihah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *