Cerpen, edisi 404 Juli 2026
Ia lupa pernah mengira rumah adalah tempat yang hangat. Bukan bangunannya, melainkan suara-suara kecil di dalamnya: sendok yang beradu dengan piring, anak kecil yang berlari-sembunyi di kolong sempit, atau seseorang yang bertanya apakah hari ini melelahkan. Ia percaya tembok dan atap rumah bisa melindungi penghuninya dari kesepian sebagaimana drone militer penangkal roket lawan. Keyakinan itu ia bawa sebagai bekal hijrah ke Jakarta, berjeda hari setelah resmi menikah.
Betapa rapuhnya keyakinan itu dilihatnya sekarang. Kehangatan itu, kini, hadir dalam versi berbeda di benaknya.
Uap sup iga di meja makan mulai kehilangan kesabaran lalu lesap bersekutu dengan hawa dingin yang menyusup dari celah ventilasi jendela. Ia sebenarnya sudah tahu, suaminya tidak akan pulang tepat waktu.
Sore tadi, dari sambungan telepon, seorang perempuan dengan nomor HP suaminya telah memberinya sebuah petunjuk baru untuk memecahkan sebuah teka-teki. Dia tak mengenal pemilik suara itu. Suaranya terlalu lembut untuk pembicaraan dengan seorang asing. Perempuan di ujung telpon dengan jelas dapat menyebut nama panggilan yang diberikan oleh ibunya sejak kecil. Entah bagaimana suara itu memiliki kemampuan untuk mengiris-iris hatinya.
“Suami kamu mengalami kecelakaan kecil. Tak cukup serius kok. Hanya memar di pelipis dan sedikit lecet. Aku tak mau terjadi hal yang lebih buruk jika dia memaksakan diri pulang berkendara. Biarkan dia tinggal di sini semalam. Besok dia akan pulih dan pulang.”
Belum sempat bertanya hal-hal detail tentang keberadaan suaminya, sambungan telepon itu telah ditutup. Ia mencoba menghubungi balik, tapi tak diangkat. Ia mengirim puluhan pesan WA yang hanya centang satu. Mendidih darahnya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Napasnya menjadi pendek-pendek.
Ia pergi ke dapur setelah melempar ponsel. Foto pernikahannya tetap menempel di tembok dengan pigura yang masih ketat menempel di dinding. Ia kemudian mengambil semua piring dan gelas bersih dari rak, lalu mencucinya, membilasnya, mencucinya lagi, membilasnya lagi, mencucinya sekali lagi, dan membilasnya sekali lagi, dan seterusnya hingga lututnya enggan menopang tubuh dan kepalanya menjadi berkali lipat bebannya.
Awal menikah dulu, mereka tinggal di rumah kontrakan kecil di pinggir rel kereta. Setiap kali kereta lewat, gelas dan apa saja di meja ikut bergetar. Atapnya bocor selama musim hujan, dan dindingnya sangat lembap seperti roti yang terlalu lama disimpan. Namun kebahagiaan terasa lebih kerap datang waktu itu dengan cara yang tidak membutuhkan banyak penjelasan. Saat listrik padam hampir tiga jam. Mereka makan mi instan diterangi lilin sambil mendengarkan suara hujan menimpa atap seng. Suaminya sering bercanda bahwa beginilah rasanya hidup miskin yang puitis. Ia tertawa sampai sakit perut.
Mereka, waktu dulu itu, masih percaya bahwa cinta cukup untuk menambal semua bagian yang koyak dari hidup. Tagihan. Kelelahan. Ketakutan. Mereka bekerja seperti dua orang yang sedang membangun rakit di tengah sungai besar. Suaminya berangkat pagi dan pulang larut. Sementara ia mengajar di sekolah swasta kecil dengan gaji sedikit yang tak pernah datang tepat waktu.
Kenangan itu sekarang seperti seperti foto lama yang mulai pudar di banyak bagian. Ia tak ingin memastikan sejak kapan perubahan itu dimulai. Anak mereka lahir dan tidur pun mendadak menjadi kemewahan. Suaminya naik jabatan lalu mulai membawa pulang wajah lelah. Rumah impian yang diupayakan hingga berdarah-darah, dulu sempat dianggap kemenangan kecil baginya namun perlahan menjadi kotak sempit untuk menyimpan keheningan belaka.
Pernikahan memang tidak tampak akan hancur. Ia retak pelan-pelan seperti gelas kaca yang terlalu lama menahan tekanan dengan perubahan suhu ekstrem. Awalnya hanya percakapan yang memendek. Lalu makan malam yang dilewatkan. Lalu punggung yang saling membelakangi di tempat tidur. Dan, ia sendiri akan tahu bagaimana akhirnya.
***
“Bun, aku pikir ayah akan dimarahi guru di sekolah.”
“Oh ya, kenapa?”
“Reno temanku dapat hukuman.”
“Gurumu pasti takkan menghukum anak baik-baik bukan?”
“Dia tak terlalu bersalah.”
“Kamu harus menjelaskan alasannya.”
“Reno tak merugikan siapapun di kelas.”
“Jika kamu tak melihat seseorang melakukan kesalahan, tidak berarti dia tak pernah melakukannya, bukan.”
“Aku nggak ngerti.”
“Bagaimana kamu tahu Reno dihukum?
“Dia cerita waktu istirahat.”
“Dia tahu kenapa dihukum.”
“Dia dibilang guru untuk sopan.”
“Hanya itu?”
“Dia terus main ponsel saat bicara dengan guru.”
“Ya itu kesalahan. Kuharap kamu tak melakukan hal yang sama. Atau gurumu akan menelpon bunda juga.”
“Bunda tahu, ayah melakukan hal yang sama seperti Reno?”
“Ya. Ayahmu sedang bekerja. Itu dua hal yang berbeda.”
“Tapi ayah tidak sedang di kantor bukan?”
“Bunda ingin tahu, apa hukuman untuk Reno?”
“Nggak… Tapi ayah pastilah kena hukum. Ayah seperti batu, tak pernah bicara dengan kita… Dia juga lupa pernah berjanji akan membacakan buku tentang rasi bintang tiap malam sebagai hadiah ulang tahunku.”
***
Malam itu, setelah telepon dari perempuan itu, pertanyaan dan prasangka buruk datang seperti kawanan burung migrasi memenuhi panggilan musim. Ia teringat tagihan restoran yang pernah didapatinya di dalam saku celana sebelum mencuci baju. Makan malam untuk dua orang pada hari kerja. Juga aroma parfum asing di baju yang membuatnya beku sepanjang malam. Tetapi ia tidak pernah berani bertanya. Ia takut pada jawaban-jawaban yang mungkin akan menjadi api di mulutnya. Ia memilih menjadi seseorang yang pura-pura buta dan tuli. Ia takut akan menjadi abu jika terbakar. Ia merisaukan masa depan anaknya.
Dari kamar, terdengar batuk kecil anaknya. Dia masuk dan mendapati anaknya tidur memeluk robot mainan yang satu tangannya telah patah. Ia lalu duduk di tepi ranjang dan memandangi wajah tenang anak itu. Dalam tidur, anak-anak selalu terlihat seperti makhluk yang belum disentuh dunia bukan? Ia sangat menyukainya karena tahu itu takkan lama lagi berlalu.
Ia membelai rambutnya perlahan. Lalu teringat bagaimana bocah itu melihat ayahnya di pusat perbelanjaan bersama seorang perempuan. Ia menceritakan dengan nada biasa saja, seperti penyiar radio sedang melaporkan cuaca harian. Entahlah. Ia tidak menangis saat mendengarnya. Dia bahkan tak tampak terkejut atau marah. Setelah itu, ia mengajak anaknya nonton dan seharian main di playground. Anak itu menganggap ayahnya pembohong karena ditakut-takuti jika ia mengadu kepada ibunya, perempuan itu akan marah dan sedih.
Perempuan sering kali menyadari perubahan sebelum menemukan bukti. Mereka mengenali jarak dari cara seseorang memanggil nama mereka. Dari jeda kecil sebelum menjawab pertanyaan. Dari kontak mata dalam pembicaraan.
Jam menunjuk tengah malam ketika pintu rumah akhirnya terbuka. Suaminya masuk dengan langkah yang dibuat biasa. Tampak memar di pelipisnya. Bajunya basah oleh hujan dan udara malam. Untuk sesaat suaminya tampak asing, seperti seseorang yang tersesat lalu kebetulan masuk ke rumah yang salah.
Pria itu tidak langsung menatapnya. Ia meletakkan helm kemudian duduk, tanpa suara. Bau rumah sakit dan asap jalanan terbawa masuk bersamanya. Mereka tidak berbicara cukup lama. Di luar, hujan turun tipis seperti abu. Dia menahan banyak pertanyaan untuk kecelakaan itu, sejak kapan ia mulai menjauh tanpa benar-benar pergi, tentang perempuan itu, dan ribuan pertanyaan lain.
Hubungan yang sudah lama beku itu membuatnya tidak lagi dipenuhi amarah. Hanya letih yang terus menumpuk seperti debu. Ia memandangi tangan suaminya di atas meja. Tangan yang dulu menggenggamnya erat setiap kali menyeberangi jalanan kota. Kini tangan itu tampak seperti benda yang kehilangan sejarahnya. Dia telah melepas cincin pernikahan mereka.
Ia ingin bertemu dan bicara untuk memberi tahu perempuan yang menelponnya bahwa rumah tangga lebih rumit dari sebuah permainan ular tangga. Bahwa cinta tidak selalu hilang karena kebencian. Kadang cinta habis sedikit demi sedikit karena tagihan, jam kerja tambahan, kurang tidur, dan kesepian yang tidak sempat dibicarakan. Bahwa manusia bisa saling menyayangi sekaligus saling menjauhi pada waktu yang sama.
Suaminya menunduk dan memejamkan mata sebentar. Wajahnya tampak letih dan kusut. Setelah sekian lama, ia merasa kasihan lagi padanya. Tapi, perasaan itu justru membuatnya marah pada diri sendiri. Bagaimana mungkin dirinya masih iba kepada seseorang yang sedang menghancurkan kapal yang sama-sama mereka bangun dan sama-sama mereka tumpangi, diam-diam.
Hidup memang bukan tentang mencari siapa yang melakukan kesalahan dan siapa yang terluka karena kesalahan. Ia berdiri lalu membawa sup dingin ke dapur. Api kompor menyala kecil, biru, dan rapuh. Rumah kembali sunyi. Hanya suara hujan dan dengung kulkas yang terdengar samar. Ia memandangi uap sup yang mulai naik: sup yang semula dingin kembali mendidih.
Ia mematikan kompor lalu berdiri cukup lama di dapur, mendengarkan bunyi napas suaminya dari ruang makan, sambil bertanya dalam hati apakah sebuah keluarga benar-benar hancur pada satu malam atau sebenarnya runtuh perlahan dengan atau tanpa pernah disadari siapa pun?
***
Fakuntsin, 2026
Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga, Jawa Tengah. Menulis prosa dan menjadi editor lepas.