Cerpen, edisi 405 Agustus 2026

Aroma malam selalu bermula dari bau karat yang basah -sisa hujan sore tadi yang terjebak di sela-sela roda besi gerbong tua yang terbengkalai. Di sudut mati perlintasan kereta, saat riuh kota meliuk menjadi sunyi yang mengancam, cahaya neon dari kejauhan hanya mampu mengirimkan sisa kemilau yang ringkih. Cahaya temaram itu jatuh di pipi Kirana, memantul pada lapisan bedak yang sengaja dipahat tebal; sebuah topeng yang ia beli dari toko kosmetik murah di sudut terminal.

Di jemarinya yang lentur, sebatang rokok menyala, melepas pilin asap yang segera ditelan kegelapan. Ia tidak sedang menikmati tembakau; ia sedang membunuh waktu yang merayap terlalu lamban. Dunia seolah mengucilkannya ke sudut yang tak tercatat dalam peta pelancong. Di sekelilingnya, hanya ada nyamuk-nyamuk liar yang berdengung ramah, berpesta di atas kulitnya yang dingin. 

Setiap kali derap langkah atau deru mesin terdengar dari balik tembok pembatas, jantungnya berdegup kencang. Namun, langkah-langkah itu selalu berlalu -milik orang-orang yang bergegas pulang menuju kehangatan rumah. Kehangatan yang sudah lama asing baginya.

Ia teringat sore tadi, di bilik sempit saat memoles wajah di depan cermin retak. Ia harus menutupi garis keputusasaan di bawah mata dengan warna-warna murah yang mencolok. Setiap polesan adalah kepura-puraan yang dilatihnya berulang kali demi menjadi sosok yang bisa dijual.

“Malam, Mbak. Sendiri aja?” sebuah suara serak tiba-tiba memecah malam.

Kirana menoleh perlahan. Seorang lelaki berjaket kusam berdiri beberapa langkah di depannya, tangannya menggenggam mulut kantong plastik besar berisi botol-botol bekas. Lelaki itu adalah sisa-sisa kemanusiaan lain yang terdampar di sudut gelap yang sama, disingkirkan oleh megahnya gedung-gedung pusat kota. 

“Seperti yang kau lihat, Mas,” jawab Kirana, suaranya diusahakan tetap renyah meski ada nada getir yang mengendap di pangkal lidah. “Mengadu nasib dengan angin malam.”

Lelaki itu terkekeh, memperlihatkan deretan gigi yang tidak lengkap. “Angin malam ini pelit, Mbak. Dari tadi saya muter-muter, cuma dapat beberapa botol gepeng. Orang-orang kaya sekarang minumnya langsung dibuang ke tempat sampah yang dikunci.”

“Mungkin mereka tahu, ada kita yang hidup dari sisa kemewahan mereka,” sahut Kirana tipis, membuang puntung rokoknya ke tanah basah, lalu menginjaknya hingga padam. 

“Ya wis, semoga beruntung malam ini, Mbak. Jangan kemalaman, anginnya makin menusuk tulang,” ujar lelaki itu sembari melangkah pergi, membiarkan karung plastiknya bergesek dengan tanah.

Sepi kembali berkuasa, mengimpit dada Kirana lebih berat dari sebelumnya. Mengapa malam ini jalanan begitu angkuh dan dingin? Bisikan-bisikan keputuasaan itu berputar-putar di kepala Kirana, tumpul namun amat menyakitkan. 

Dan lebih dari rasa sepi yang menikam, ingatan akan bau busuk dari mulut, hidung, serta tiap jengkal kulit lelaki -aroma tengik yang basah oleh genangan ludah lintah- kembali menghantam kesadarannya tanpa ampun. Bau itu menghujani kepalanya dengan presisi yang menghancurkan, membakar setiap sel sarafnya hingga mual yang lebih pekat dari gelapnya malam menyumbat tenggorokan. Rasa benci itu bukan lagi sekadar emosi, melainkan racun yang merayap di bawah kulitnya.
***

Jauh di dalam bilik kontrakan tiga kali tiga meter yang berjarak dua kilometer dari gerbong mati ini, ada dua pasang mata yang mungkin sedang menatap langit-langit runtuh. Nalendra yang baru berusia tujuh tahun, dan adiknya, Danastri, yang masih balita. Mereka adalah sepasang jangkar yang menahan Kirana agar tidak hanyut dibawa arus keputusasaan. Namun malam ini, jangkar itu terasa begitu berat ketika kantong bajunya masih sekosong langit tanpa bintang.

Besok pagi, penagih sewa akan mengetuk pintu dengan kepalan tangan yang keras. Dan Nalendra, anakku yang bermata jernih, apakah besok ia hanya akan meneguk air putih hangat untuk menipu perutnya yang kosong?

Ketakutan merayap bagai ulat bulu yang menjalar di tenggorokannya, menyumbat udara. Kirana memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kelopak matanya yang dirias warna ungu gemerlap, riuh kota mendadak senyap sepenuhnya. Perempuan itu melipat tangannya di atas pangkuan, meremas jemarinya sendiri yang bergetar. Di dalam hati yang remuk oleh bimbang dan hina, ia mulai merajut seuntai kalimat yang tidak diucapkan oleh lidah, melainkan oleh seluruh pori-pori tubuhnya yang gemetar.

Oh Gusti, pemilik malam yang maha luas, aku tahu tubuh ini telah menjelma menjadi komoditas yang kau murkai. Aku menyandarkan hidup pada sisa-sisa kesenangan lelaki yang tersesat. Namun, jangan biarkan kedua anakku mewarisi kegelapan yang kuhuni. 

Beri hamba sekadar setetes rezeki malam ini, bukan untuk kemewahan yang membutakan, tapi hanya agar esok pagi ada kepulan asap dari periuk nasi kami. Bukakan selembar jalan yang terang bagi masa depan anak-anak hamba. Kabulkanlah, Gusti. Jangan palingkan wajah-Mu dari pendosa yang sedang mengemis ini.

Angin malam berembus lebih kencang, menerbangkan ujung rambut Kirana yang sewarna malam. Air matanya merebak, mengancam akan merusak garis celak hitam yang diulasnya dengan sangat hati-hati sore tadi. Ia buru-buru menyekanya dengan ujung jari sebelum lelehan air mata itu mengupas lapisan topengnya.

Tiba-tiba, seberkas cahaya senter memotong kegelapan dari arah peron. Cahaya itu bergoyang lambat, mendekat ke arahnya. Terdengar derak sepatu yang menginjak kerikil- kerikil tajam di antara rel besi. 

Kirana mendadak tegang. Ia segera menegakkan punggung, memasang senyum terbaiknya -sebuah senyum manis yang dilatihnya berulang kali di depan cermin retak setiap sore. Seorang lelaki paruh baya dengan jaket kulit mahal dan aroma parfum yang mengintimidasi udara sekitar muncul dari balik bayang-bayang. Lelaki itu berhenti tepat di hadapannya, menatap Kirana dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan menilai.

“Masih buka?” tanya lelaki itu, suaranya berat dan serak, membawa aroma alkohol yang tipis.

Kirana tersenyum semakin lebar, matanya menyipit puitis menutupi rasa mual yang mendadak bergejolak di dasar perut. “Malam belum benar-benar habis untuk mereka yang tahu cara menikmatinya, Tuan. Mau singgah?”

Lelaki itu mendengus sinis, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka menyempit. “Berapa untuk menyewa sepi?”

“Cukup untuk membuat dapur saya mengepul besok pagi,” jawab Kirana dengan nada bergurau, namun matanya menatap lurus, penuh permohonan yang disembunyikan dengan rapi.

Lelaki itu tak membalas gurauannya. Ia mengeluarkan dompet kulit tebal dari saku dalam jaketnya, menarik beberapa lembar uang berwarna merah yang masih kaku, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas pangkuan Kirana. 

“Ayo. Jangan banyak bicara lagi. Waktuku tak banyak,” cetusnya dingin.

Kirana merasakan jemarinya bergetar hebat saat menyentuh lembaran uang itu. Malam belum sepenuhnya mati, dan di dalam dadanya, doa khusyuk yang tadi melambung samar kini bertransformasi menjadi energi yang amat getir. Ia mengantongi uang itu cepat-cepat, berdiri perlahan, lalu mengekor di belakang langkah lebar sang tuan menuju sudut remang yang lebih pekat di balik gerbong tua. 

Perutnya mendadak bergejolak hebat, dihentak rasa mual dan benci yang memuncak -terpicu oleh bayangan bau busuk yang basah, melilit, dan tergenang oleh ludah lintah dari lelaki yang sebentar lagi akan menyentuh kulitnya. Setiap inci tubuhnya menjerit menolak. Namun, dengan sekuat tenaga dipaksakannya seluruh gejolak dan rasa jijik surut kembali ke dasar tekaknya, ditelannya bulat-bulat bersama ludahnya yang pahit demi sepasang binar mata dan senyum Nalendra serta Danastri esok pagi.

Dengan kepala tertunduk dan langkah yang dipaksakan tegap, ia pasrah kembali mengobral dunianya pada malam yang tak pernah berbelas kasih.
***

Fitri Rusandi, penulis dan penyair asal Sumatera Barat yang aktif di platform daring. Ia dikenal karena karya-karya fiksi dan puisinya yang sering mengangkat isu sosial. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *