Puisi, edisi 407 Oktober 2026

Tak ada pintu
di belakangku.

Hanya kebun
yang makin jauh
setiap kutoleh.

Sehelai daun ara,
masih membawa dingin
dari pohon yang kutinggalkan.

Sejak itu,
setiap jalan
adalah jarak.
***
Yogyakarta, 2026

Uhud

Bukit itu
menyisakan
tiga puluh busur.

Selepas itu,
sebaris titah
tercerai dari 
pendengaran.

Lembah
menerima
putaran nasib.

Panah-panah
masih lekat
pada tali.

Kemudian 
tiga puluh busur,
menggugurkan 
tujuh puluh tubuh.
***
Yogyakarta, 2026

Dalam Satu Musim

Apa yang hendak dicari  
ketika suara terakhir  
jatuh di halaman kosong?  

Di antara arah yang berpisah,  
angin membawa sisa hari  
melewati pintu tak bernama.  

Ada suatu ketika, manusia berdiri  
di batas yang tak terlihat,
mendengar langkahnya sendiri  
menjadi suara asing.  

Maka terbukalah.  

Dan di ruang itu  
ada yang bergerak perlahan,  
seperti warna kain  
yang lama tersimpan.  

Bila bumi terus berputar,  
siapa yang menjaga  
bekas cahaya yang tertinggal  
pada benda-benda fana?  

Maka biarkan waktu 
terus berdentang,  
seperti bayang-bayang,  
dan biarkan rindu menyala  
di antara ada dan tiada.
***
Yogyakarta, 2026

Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Menulis puisi, cerpen, esai, dan resensi. Tulisannya dimuat diberbagai media, seperti Koran Tempo, Kompas, Kalam, Jawa Pos, Lombok Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, dan media lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *