Aurora Kemarahan

Gendhotwukir Masuklah, ridna! Di luar orang-orang mulai mengigau dan tak pedulikan genangan air matamu yang telah membibir itu. Selama angin masih membelaimu. Kenangkanlah bahwa kita hanya seonggok sampah yang tak akan pernah mengerti makna perjalanan ini. Biarlah orang-orang menebar badai lalu menguncinya di daun pintu. Amarah yang kau pendam tak akan menebarkan segerombolan penari dari […]

Waktu Purba

*Siska dan Ridna Kekasihku Setiap waktu engkau terdiam lalu tersenyum. Semburat sudut matamu mengabadikan gelombang rasa dari waktu purba. Luka yang tertahan. Kepedihan yang tersembunyi jauh di dasar lubuk hati yang tak seorang pun mampu menyelaminya. Di situ gerhana terus menjelma. Kata-kata dan senyum itu riuh mengalir selayak hujan salju dan telah menjelma kedok. Seperti […]

Ke Barat Kepada Bunga

Pak, mari kita pergi ke barat yang adalah timur juga. Ke barat mengejar matahari terbenam. Tetapi, janganlah sampai ke ujung barat karena di perempatan kita harus ke kiri memetik setangkai bunga. Setangkai Bunga Ridna. Bunga yang kata orang-orang seperti datang dari korea. Sayang,  bunga korea itu mulai layu karena ulah orang dungu sepertiku. Pak sebelum […]

Meratapi Permainan Tradisional

Gendhotwukir Banyak orang tua yang sering mengeluh karena anaknya kecanduan game-game modern. Anak-anak mereka tidak lagi akrab dan bahkan kurang mengenal permainan tradisional, seperti gobak sodor, petak umpet, cublak-cublak suweng, tergantikan dengan keasyikan main  PS 2, bercengkrama dengan game komputer, dan suka nongkrong di game center berjam-jam lamanya. Mereka kecanduan game-game modern dan tak jarang […]

Penulis Edisi 151

Gendhotwukir, Penyair dan jurnalis dari lereng Gunung Merapi Jawa Tengah. kini menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hobi makan ikan asin . Anton Bae bin Yazid Amri bin Abdul Kohar Catatan yang Hilang adalah buku kumpulan puisinya yang pertama, dan cerpennya sudah dimuat di berbagai media. M. Arpan Rahman, lahir di Palembang dan menulis puisi […]

Mengiring Jenasah

Gendhotwukir Dipuja suka, mati mudaSalah dosa belum terkayaRia lekat wajah ronaBahgia terdampar. Di pulau tangisan gema Iring-iringan mencipta debu lesuKeruh linangan senja gerimisBergegas mengubang kikis 23 cukup. Kenapa tidak 70atau  80  jika ada daya ? alun melodikan cerah di depanpupus membaca harapanmenghenti muda menyapa kematian manusia senja tersadarsegera kejar kepergian mudapintu mana, pintu ke sanaingatan […]

Tentang Penulis Edisi 141

Gendhotwukir, anak Muntilan yang kerap menulis dan motret. T. Wijaya, pegiat seni dan jurnalis di Palembang.. Nabiha Shahab, pegiat lingkungan dan wartawan lepas, dan penggemar coklat.

Ambang Batas

akan kemanakah  terbangnya layu kembangtelah digenggam oleh petangnamun petang tak segera mengungkap terangsukma kembang menebar pandangdijemput ‘tak bagi tamu agung lalu menangislah menatap kehancurankarena hanya senyum girang terkenangmembau tanah gembur yang senganberbalik memeluk luh yang genang tangis kembang menghuni malam sunyikehangatan terkapar di perapianteriak lantang mengatai pagipagi merekah berarti ajal kematian kenapa tak kau bunuh […]

Di Muka Kathedral

Gendhotwukir Wadak lungsuh susuh menyudut di sela-sela jerujiPesona bibir terkatub mantup menggigilTanah berpijak bosan dan enggan  membau buah kuldiPintu angan tak terbuka untukmu yang dekil Wajah angkuh kukuhMembumbung tinggi beralaskan wadak-wadak kumalRaga kian gaduh riuhMenatap keindahan dunia yang hanya dikenal Mati enggan, hidup beralaskan permadani terindahMelanglang bersama garang yang lupa daratanMati enggan, hidup lupa akan […]

Tentang Penulis Edisi 135

Wahyu Heriyadi, lahir di Ciamis, Jawa Barat, bersekolah di Fakultas Hukum Universitas Lampung dan kini tinggal di Lampung. Gendhotwukir, anak Muntilan yang kerap menulis. Presiden Hayat, penikmat sastra dan sayur asam, dan penyumbang tetap ceritanet..