Maksum Datang Lagi – Eric Sasono

Cerpen, edisi 392 Juli 2025 Perkenalkan, Maksum. Kulitnya legam karena terbakar sinar matahari. Rambut dipotong cepak dan badannya kekar. Ia datang ke rumah pakai baju hijau kusam dan sepatu kulit warna coklat, yang kotor tapi masih tampak kuat. Saya kenal sepatu itu karena dulu milik saya yang dialihkan sebagai pengganti sepatunya yang sudah tak punya […]

Bapak (1) – Palito

Puisi, edisi 392 Juli 2025 bapak, di kehidupan malam selasa iniada taring waktu mencabik jantung katayang kau jahit ke lubang dadaku,tapi direbut paksa dari piring nasihat,belum sempat kulahap tandas, sudah disergap kawanan laparyang mengendus kelemahanku,sementara matamu tak lebih dari batu nisan,dingin, beku, tak melihat bahwa aku kehilangan separuh tubuhku. bapak, di garis hidup yang kaugoreskan dengan telunjukmu itu,belum […]

Tangga Menuju Dalam Diri –  S. Sigit Prasojo

Puisi, edisi 392 Juli 2025 Ada tanggadi dalam pikiranku,menurun ke ruangyang tak pernah bisa kusebut “aku”. Tangga itu tidak bertingkat—hanya gelap dan gemadari langkah-langkahyang sudah terlalu lama hilang bunyinya. Aku turun,bukan karena ingin tahu,tapi karena terlalu lelahberpura-pura utuh di atas.***Ponorogo, Juni 2025 Bayangan  Lampu sudah kupadamkan,tirai sudah kututup,tapi bayangan itu masih ada,berdiri tepat di tengah […]

Membayangkan Hilirisasi – A. Dion Laèp

Puisi, edisi 391 Juni 2025 benarkah jalan kitamengitari garis kurva? pagi belum terbuka. tapi sejumlah pertanyaantelah berdesakan di warung kopi;apa gunanya Menteridi negeri yang katanya demokrasi? perlahan, bulan tampak memar. setelah segalanya dicemari,apa yang berharga di negeri ini? sebentar lagi,embun akan diisap matahari. barangkali pada suatu hari,hijau hanya ilusijika yang tersisa hanya warna sepiapada kata-kata.2025 […]

Pada Sebuah Privilese – Ika Yuliana

Tulisan dari residensi seni di Cite des Arts Paris, Januari – Maret 2025 Catatan, edisi 390 Mei 2025 Tak terduga dan serba terburu-buru, rasanya paling tepat untuk menggambarkan bagaimana tahun 2025 dimulai dengan sebuah musim dingin di kota Paris. Oktober berlalu setelah baru saja meninggalkan pekerjaan penuh-waktu di sebuah organisasi nirlaba, lantas November mengambil jeda […]

Mat Walid dan Serangga-Serangga Paling Merepotkan – Hari Niskala

Cerpen, edisi 390 Mei 2025 Petang sepulang menengok petak yang hendak ditanami jagung, Mat Walid memikirkan lagi satu jenis rencana mulia. M-u-l-i-a, begitu ia mengeja satu per satu huruf dari kata yang jarang keluar dari mulutnya. Rencana tersebut pernah ia bicarakan dengan guru Biologi, beroleh pujian setinggi langit sebelum si guru Biologi mati akibat serangan […]

Pawai Menuju Alifakovac – Yuliyatul Unsiyah

Puisi, edisi 390 Mei 2025 Kota ini seluruhnya sudah menjadi artefak, Delisa.meja makan berantakan dihinggapi debu.yang tersisa hanya bekas gincu.dan aroma tubuhmu di pundakku. Perjalanan ini menghabiskan lima liter peluh, Delisa.Alifakovac tetap menyala dihimpit banyak kepala. Malam adalah hantu.menakut-nakuti saban jemu.dalam rekaman kepala- kita ini begitu asing.demam, seketika aku teringat Malingping.yang memberi teduh.dalam sisa perjalanan […]

Terpikat Puisi Teringat Puasa – Taufik Nandito

Catatan, edisi 389 April 2025 Petang baru saja berakhir ketika saya dan seorang kawan menginjakkan kaki di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pertengahan Maret lalu. Kami tiba untuk menghadiri majelis bulanan Kenduri Cinta besutan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama kelompok Maiyah Jakarta. Malam itu, Kenduri Cinta mengangkat tema Puisi dan Puasa […]

Darwis, Sebuah Kisah Senja dan Kenangan – Muhammad Solihin Oken

Cepen, edisi 389 April 2025 Darwis akhirnya menyadari bahwa hidupnya sekarang jauh berjarak dari potongan gambar klise dalam kamar gelap. Waktu membuncah kehadiran subjek dirinya pada potongan gambar. Bayang gambar muncul dan hidup menjadi foto. Foto itu hidup menjadi dirinya. “Kau ingin menempuh waktu, Darwis? Atau sedang, atau telah? Atau melepaskan waktu dari foto-foto, mungkinkah?” […]

Perempuan Kelabu – Rinanda Tesniana

Cerpen, edisi 388 Maret 2025 Dengarkan penuturan suaranya di Difalitera: https://difalitera.org/perempuan-kelabu/ Aku sebenarnya suka perempuan yang berdiri di sisi kananku. Perempuan berambut panjang coklat, hidung bangir, dagu lancip, dan sorot mata sendu. Perempuan yang berwajah menarik namun kuberi nama Perempuan Kelabu. “Mengapa Perempuan Kelabu?” teman di sisi kiriku bertanya dengan bisik amat pelan.  Aku tertawa. […]