Si Singamangaraja – Ari Minggu Tamba
untuk Dr. W.B. Sijabat 1Akulah Si SingamangarajaNyala di BakaraRedup di Balige Kau menjamah perihnya Tapi sebelum ituTanah kerontang hangus harapDi ujung pematangterban laparDan susut danauingatigelepar ikan matiSejak malam tersarukmimpi sekarat Dihangati jubah-jubah hujan langit TobaHingga bulir padi menggemuk maduDan bernas beras di mamah mendidihBerbuncah suara jiwa rongga merdeka Sambil membajak tengah malamMenyelami danau ikan-ikan jelita […]
Sajak Batu – T.S. Pinang
lalu bebatuan itu pun terukir nama-namaditanam sebagai nisan-nisan. lebih pualam daripada hatimu sendiridan cahaya begitu menyilaukan karena telah lama matamumenyantap kegelapan, menyantap kegelapan! lihatlah,wajah-wajah suci kanak-kanak terpeta air telagamembasuh diri sampai ke hatimembasuh hati sampai ke langit hingga segumpal megamenghapus kemarau yang rentameremajakan dedaunan yang dahaga kaulihatkah wajah mereka di meja kerjamudi tikar sembahyangmu, di […]
Sangkuriang – T.S. Pinang
terbatuk-batuk masih kulihat engkau, terseok-seok mengusung kerandasendiri. dimana masih tersisa sepetak bumi untuk kuburan cintaku ini,rintihmu menghiba pada angin kota, pada genang got riool tepi jalan, padalampu merkuri malam-malam mungkin kesepian ini harus kautelan bulat, sebagai puisi ataukah doa, takpenting benar. mungkin rumah hati telah terlalu sempit oleh bangkai-bangkaimenung, filsafat-filsafat murung “aku haus air susu […]
Semangkuk Sereal Untukmu – T.S. Pinang
: josephira mengapa pula pagi mesti menawarkan sepiring masygul dan segelas sesal,ketika mimpi-mimpi semalam pun telah punah dan mentari sudah bosanmenjanjikan kehangatan selimutnya. maka ucapan terima kasih atas sepotongkeju dan semangkuk sereal susu pun menjadi demikian sumbangataukah mungkin memang sudah sepantasnya begitu berita televisi merampok selera makandan sebatang rokok menjadi sepengap asap mesiusaat lagu kanak-kanak […]
Kenangan Scheveningen – Sitok Srengenge
Ada yang senantiasa melukisi daun dan buah, lihat jejaknya menggaris di batuan tanahAku daun yang tanggal, terbasuh embun sebelum luruh dibantun taifunKau buah yang mengkal, tersepuh ranum sebelum jatuh dikulum alum Kita tumbuh dari akar berbeda,meski mencecap air dari sumber yang sama Aku datang dari perih yang diguritkan angin dan angin mengibarkan rambutmu yang perak Lihat tapaknya mengering di bangkai musim, sebagian […]
Di Hamburg Sepi Menghambur – Sitok Srengenge
Kecuali kelam cuma angin compang-camping, seusai sepi merajamkan sejuta taring Hawa jekut bersalto di perut gelandangan, bayang-bayang maut dari ghetto masa silam Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung, lidahnya menjilati patung-patung di taman Udara menggelepar, menanggung gaung, menebar bau rawan peraduan Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi, sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar […]
Bukan Kerja Akhir Pekan – J.J. Kusni
kebutkanlah mantel dinginmu mengebut daki-daki musimdan kita kembali berangkat, “apakah masih jauh ujung jalan?”jalan kita berbataskan malam, bung kerna itu patut bergegasmemacu mentari dan tak usah tanyakan jam berapa sekarang, takusah mengeluh pegal ngilu kaki-tangan jika mau bersama***
jiwa pecinta – Alkarna
(episode kedua) DRA dan beginilah jiwa sang pecinta. selalu ingin bebas. lepas. tak kuasa satu pun menahan gejolaknya. ia terbang. ia menari. menggantung. mengawang. membuat rahasia. seperti sebungkus rindu yang ia buat untuk kita. disini. jiwa ini mempertemukan kita. pada suatu masa. pada suatu dunia. yang lain dari dunia kita. mungkin nirwana. lepaskan kita dari […]
merindu – Alkarna
(episode pertama) DRA sayangku, kali ini aku merasakan begitu merindu. menggebu-gebu. karena kamu, aku begini. karena kamu, aku mau menanti. entah berapa masa. sampai tiba suatu saat, aku bisa kembali kepadamu. mendekapmu. dan tak ingin berpisah lagi sedikitpun darimu. tubuh ini jadi kaku. beku. bila selalu jauh darimu. kupaksakan biar ia terus begitu. menanti. menanti. […]
di tubuh waktu ada – Ikun Eska
kata itu meloncat dari kotak teka-tekimumenggelepar di lantai lalu diammembekukau ingin menjumputnyamengembalikan ke kotakuntuk menjawab sebuah pertanyaantetapi begitu tanganmu ingin menyentuhnyakata itu meloncat ke dalam jamdi dinding kamarmu bergayutpada angka-angka di sanakau membiarkannya dan mengisikekosongan yang laindari detik ke menitdari jam ke haridari minggu ke bulandari ranjang ke kuburanhingga kau lupadi tubuh waktu ada tersiasatu […]