“Apa-apaan ini? Kamu pikir saya siapa kamu sogok dengan beginian,” teriak  Joko pada kedua mahasiswanya. Jeger dan Dariel yang datang membawa dua kilo apel dan tiga kilo anggur, dibuat pucat. “Bukan Pak. Ini hanya oleh-oleh,” Jeger berkelit. 

“Oleh-oleh?” Joko terkekeh. 

Rahang Jeger mengeras namun mulutnya terkunci. Dariel menunduk menatap lantai, tak berani melihat wajah Joko. Pertama kalinya mereka berdua mendatangi rumah Pak Joko, untuk memperbaiki nilai. 

Jeger bukannya belum pernah mengulang mata kuliah Dr. Joko Prabowo MSc, hanya saja dia terlalu cuek untuk menghadap dosen, yang tersohor di seluruh mahasiswa, dengan komentar masing-masing. Ada yang yakin tamatan Amerika  Serikat itu jenius, ada yang bilang biasa-biasa saja tapi pelit memberi nilai, ada yang memberinya gelar sebagai ‘pembaharu jurusan’ dan ada pula yang menjuluki ‘dosen genit’ sedang yang ketakutan menyebutnya ‘dosen angker’ walau tak sedikit pula yang mengejeknya ‘pak cincai’ sambil tersenyum kecil.

Jeger awalnya tak terlalu perduli. Ia mengacuhkan ketika teman-temannya yang dulu mengajaknya ke rumah Pak Joko dan percaya belajar lebih giat yang menjamin nilainya akan membaik. Namun setelah mengerjakan segala tugas lebih serius dan bergadang dua malam menjelang ujian, ternyata nilainya tidak lebih baik dari tahun lalu. Dia mengumpat sejadi-jadinya, menyesali dirinya yang tidak ikut teman-teman sekelasnya datang ke rumah Joko.

Maka Jeger masuk dalam kelompok mahasiswa yang menyebut ‘Joko Pelit’, yang memang tidak pernah ragu memberi nilai D dan E untuk seorang mahasiswa sampai berulang-ulang dua atau tiga kali. Jeger sabar untuk dapat D dua kali tapi tidak mau sampai tiga kali. 

“Tuh kan sudah saya bilang, Kamu nggak percaya sih,” bisik Dariel kepada Jeger begitu keluar dari rumah Joko. Dariel kesal karena Jeger tidak mau mendengar saran untuk membawa amplop buat Joko. Soalnya Jeger yakin yang namanya kaum intelektual tamatan negara demokrasi anti-korupsi Amerika Serikat di seberang lautan sana mestinya malu menerima uang, jadi ‘oleh-oleh’ rasanya lebih tepat. 

“Bajingan,” umpat Jeger kesal mengaku salah. Dan semakin malu ketika pamit pulang dilecehkan oleh Joko dengan tawa besar, “Loh kok oleh-olehnya dibawa lagi?” 

“Saya laporin bangke itu ke Kajur besok” ancam Jeger. 
“Jangan gila. Kamu mau bernasib seperti Opan,” sergah Dariel.  

Opan adalah senior jauh di atas mereka namun namanya jadi legenda di jurusan dengan kisah heroiknya -dan sekaligus konyol- yang terwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Opan drop out karena dengan gagah berani bertekad melawan Dr Joko Prabowo MSc namun berakhir konyol ditendang dari kampus pada tahun terakhir, ketika kawan-kawannya yang lebih penakut, lebih bodoh, dan lebih malas malah diwisuda dengan riang dan bangga.

Konon, seperti biasanya begitulah sebuah legenda, Opan dapat E tiga kali dan berkeras tak mau menghadap Joko dengan amplop atau arloji bermerek maupun batik tulis langka. Mendengar kisah kawan-kawan yang rela maupun yang terpaksa datang ke rumah Joko, maka Opan memberanikan diri melaporkan Dr Joko Prabowo MSc ke Ketua Jurusan, lewat surat tulisan tangan sepanjang tiga halaman. 

Namun saat ‘persidangan’ Opan malah tak muncul. Konon pula karena dia baru tahu bahwa Kajur adalah sobat seangkatan kuliah Joko dan, konon lagi, sesama kawan gowes. Paham posisinya jadi amat lemah, Opan bukan hanya tak hadir di persidangan tapi sama sekali menghilang dari kampus dan surat keputusan DO-nya dipajang di papan pengumuman jurusan.

“Mikir lagi deh, kasian sama ibu kalau sampai drop out?” 

Jeger melunak. Ia selalu melunak jika mengingat ibunya, orang tua tunggalnya yang bekerja mati-matian berjualan nasi campur di kantin sekolah. 

“Setidaknya kita beruntung karena bukan perempuan,” kata Dariel menepuk pundak Jeger. 
“Atau malah kesialan kita, tidak punya modal fisik,” tanggap Jeger, masih kesal.
***

Liana gelisah.

Sama seperti teman-teman sekelasnya, dia telah mengumpulkan hasil ujian remedi dan tugas akhir yang telah diperbaiki. Tapi ketika nilai semua teman sekelasnya  sudah berubah, ia mendapati tertinggal sendiri untuk mengulang lagi tahun depan. 

Dia ungkap gelisahnya ke sahabatnya.

“Terus bagaimana Nis?” 
“Saranku kamu hubungi lagi.”
“Sudah Nis. Tapi tidak dibalas.”
“Coba tungguin di ruangannya.” 
“Aku takut Nis. Kan kita sudah sering dengar-dengar…” dan Liana merasakan gelisahnya makin menggetar. 
“Iya sih.”
“Kayaknya nggak mungkin ya dia gitu Nis. Gimana?”
“Entahlah, mungkin cuma gosip, mungkin juga beneran. Sekali-kalinya aku beruntung nggak secantik kamu,” kata Nisa tersenyum menang.

Nisa memang  cuma jadi bayang-bayang Liana, yang tinggi, langsing, putih, cantik, ramah, rajin, dan dikelilingi segala hal indah. Sedang dia memang tinggi tapi besar, gelap, dengan semua hal jelek melekat di permukaan tubuhnya yang luas. Dia tahu ada yang menyebut mereka berdua sebagai Beauty and the Beast, dan semua orang tahu siapa yang mana. 

“Apaan sih Nis,” Liana tak menepis beauty yang bukan soal baru buatnya tapi sudah jadi karakter melekatnya sejak kecil.
***

Dengan takut bercampur harap, Liana menunggu hampir sejam di luar kantor Dr Joko Prabowo MSc, yakin nilainya tak mencerminkan kerja keras dan kecerdasannya. Berkali-kali pesannya diabaikan. Akhirnya dia bisa bertemu tapi tak berarti takutnya otmotatis terganti senang.  

“Kamu kenapa?” tanya Joko dingin, tanpa memindahkan mata dari layar laptop. “Sudah saya bilang jangan temui saya di kantor. Kamu benar-benar tidak bisa diberi tahu.” Ketika mengatakannya rahang Joko yang lebar bergerak kembang kempis, nyaris seperti insang ikan. Lalu Lina merasa tertusuk mata tajam di seberang meja, turun dari wajah ke dadanya. Liana risih.

“Saya sudah kirim pesan minta masukan tugas dan ujian, tapi Bapak tidak balas.”
“Kalau saya tidak balas berarti saya sedang sibuk.” 
“Tapi Pak saya kan…” Liana tercekat ketika terasa kembali tatapan mata tajam itu, dari mata, turun ke leher, dan berhenti di dadanya. Ia batalkan protesnya bahwa dia sudah melakukan seperti yang teman-temannya lakukan, tapi nilainya adalah satu-satunya yang tidak juga berubah. Ia tidak sanggup mengatakannya dan air matanya lebih dulu berbicara. 

“Saya masih ada kerjaan,” jawab Joko dingin. Tangis itu sekaligus memutus tusukan tatap mata dari tubuh Liana untuk kembali ke layar laptop.  Liana berdiri, berbalik ke arah pintu, dan mata tajam itu terasa datang lagi menelusuri seluruh tubuh belakangnya sampai terdengar suara yang tak sedingin tadi, “Nanti saya hubungi kamu kalau saya tidak sibuk.” 
***

Sebuah pesan masuk di hape Liana, dari Dr Joko Prabowo MSc. 

“Saya ada seminar di Hotel Melati. Kalau kamu mau memperbaiki nilaimu temui saya di sana. Jadwal saya selesai jam lima sore, saya tunggu sampai jam delapan malam.” 

Pesan dari Pak Joko sudah lama ditunggunya tapi kini pikirannya malah dipenuhi rasa takut. Ia teringat cerita-cerita tentang mahasiswi yang diajak konsultasi di luar kampus, di dalam sebuah ruang yang tertutup empat dinding tebal yang tak tertembus suara. Mendadak bulu-bulu halus di tengkuknya berdiri. 

Liana dilanda dilema: datang atau tidak. Ia susun rekaan wajah Joko yang sebenarnya tampan walau sudah memasuki paruh baya: 20 atau 30-an tahunan lebih tua. Dan ia tak ingin mengulang lagi tahun depan. Dan pikiran gila itu datang, jika cuma ada satu jalan maka ia terpaksa melakukannya. Dan muncul juga kesadaran akan naluri darurat jika bahaya menganga: lari ke luar kamar, berteriak, mencakar muka yang tampan, atau menendang selangkangannya.   
***

Dengan kikuk, Liana masuk ke hotel Melati. Jantungnya berdebar sangat cepat. Nafasnya semakin memburu. Sempat ia berpikir untuk membatalkan niatnya, namun mengulang mata kuliah lagi tahun depan dan tetap saja tanpa jaminan lulus menjadi lebih menakutkan. Tanpa sadar ia sudah berada di lorong hotel tempat Dr Joko Prabowo  MSc akan menunggu. 

“Datang juga kamu. Saya pikir tidak jadi datang. Hampir saya tinggal,” kata Joko dan mata tajam itu tanpa malu-malu seperti menelanjanginya. “Ayo ikut.” 

Liana menurut seperti terkena mantra. Ia mengikuti Joko dengan wajah menunduk dan ekor matanya tak lepas dari sepatu pria itu. Hatinya kian gelisah dan debaran jantungnya makin tak terkendali. Pikirannya melayang jauh entah ke mana. Suara langkah kaki dari sepatu pantofel Joko bergema di telinga Liana, sahut menyahut dengan degup jantungnya yang semakin cepat. Pandangannya buram. 

Joko menghentikan langkah dan tanpa dikomando Liana ikut berhenti. “Ayo sini duduk,” perintah Joko. Mata Liana memandang berkeliling dan terbangun heran:  dia  bukan di dalam kamar sempit berdinding empat tapi lobi hotel yang terbuka luas dengan orang berlalu lalang dan meja-meja di sekitar yang ramai pula dengan obrolan banyak tamu lain. 

“Kenapa kamu seperti orang bingung?” tanya Joko, juga terlihat tidak kalah bingung dari Liana. “Kamu tahu tidak kekuranganmu? Kamu salah pakai teori, harusnya kamu…” tapi Liana tidak mendengar jelas yang dikatakan dosennya itu. Pikirannya melayang terbang lagi, entah ke mana. 

“Hei kamu dengar saya tidak?” tanya Joko membuyarkan lamunan Liana.
“Ah, iya Pak. Saya dengar.”
“Kenapa wajahmu seperti orang kecewa?”

Mendadak Liana amat ingin mata tajam itu datang lagi menulusuri seluruh tubuhnya dari wajah. jenjang leher, dada, perut, turun ke pinggang, paha, betis, sampai tumit kakinya yang terbuka.

Malam itu di Hotel Melati, kepercayaan dirinya hancur lebur. Liana merasa hilang, entah di mana. 
***
Gang Metro, Maret 2021

Aliurridha, penerjemah dan pengajar Toefl. Tinggal di Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Sehari-hari menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media cetak maupun daring. Cerpen-cerpennya telah terbit di Koran Tempo, Republika, Suara Merdeka, Fajar Makassar, Kompas.id, Magrib.id, dll. Aktif bergiat dalam komunitas Akarpohon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *