Muara adalah pintu
—mulut kecil yang selalu terbuka
bersuara kepada laut
dunia bagi ikan-ikan ke surga
menuju kemerdekaannya
Di bawah langit yang berpayung biru
sungai diwarnai daun teratai
dan sepasang angsa putih
sebentar kemudian datang seorang pelukis
masuk ke ruang imaji, seperti puisi
Pandangan pun melebar dan kagum
bertemu bangga
setelah menempuh panjang jalan
jarak yang mengembara
hari-hari menyulang bahagia
Dan pintu itu berderit,
menanggalkan segala jerit
***
Indramayu, 2020
Duka Hanya Sebentar
Jika kau merasa, sedih yang tak kunjung
selesai
lihatlah tangis pada mata hujan
ia pun reda juga
Sebab duka hanya sebentar
ketukan pada pintu
ratap merdu, lonceng dielus angin
sesudahnya gemanya lewat
Telah berlalu, telah berlalu
bagai musim memutik dari segala peristiwa
***
Indramayu, 2020
Faris Al Faisal, lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku ‘Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ Yayasan Hari Puisi. Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, dan beragam kejuaraan lain. Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya ‘Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian’ sudah diterbitkan Rumah Pustaka (2018). Facebook: farisalfaisal