Semenjak musim kemarau
daun-daun di pukul angin
ada yang tiada dari ada
Setiap kali sehabis subuh
lelaki itu merenung
di jendela yang sudah kusut
Angin dingin memeluk
setiap napas lunglainya
Lelaki di ujung jendela
Merenung dikala kesepian
Rumahnya yang luas itu;
Kosong, kesepian selalu menghampiri.
Lelaki itu; senantiasa
mendengarkan suit-suit burung
Ada yang tiada dari lamunannya
Angin selalu puas dengan desirnya
Gelombang senantiasa
mencintai bibir pantai
Lelaki di ujung jendela itu
merenung sedih
Detak jam tak mau berhenti sejenak
Daun-daun kelor gugur
Seperti bunga melati yang sedang
jatuh dari rantingnya
Lelaki di ujung jendela itu
sedang berdo’a
membacakan sya’ir cintanya
kepada istri yang
sedang merenung di kamar puisi
***
(2021)
Wanita Termenung Di Dekat Pintu
Hari ini, butir-butir hujan
turun membasahi bumi
Bulan dan gemerlipnya
bintang tak kuasa untuk tersenyum
Ada yang lebih enggan tersenyum
dari bulan dan bintang
adalah wanita yang termenung di dekat pintu
Senantiasa menunggu
kata yang menjenguknya
di antara pintu yang dingin
Angin datang tak membawa
sepucuk sajak cinta.
Angin datang membawa duka dan lara
“Kakek meninggalkan nenek, Nak”
***
(2021)
Ilham Wiji Pradana. Lahir dan berkarya di Pati, Jawa Tengah. Alumnus IAIN Kudus “Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam.”