Puisi, edisi 378 Mei 2024
/1/
lelahkah kau setelah mencatatkan jejakmu pada paruh matahari?
maka rebahlah di pangkuanku seperti awan rebah di bulan yang basah
atau seperti embun malam yang rebah di daun dan reranting pohon
rebah. rebahlah. akan kudongengkan kembali hikayat-hikayat purba
tentang seonggok cinta yang selalu biru menyanyikan rindu yang gelisah dan cemas
rebah. rebahlah. dalam pangkuanku
engkau akan menangkap isyarat-isyarat itu
: rindu yang bertapa seperti karang
tempat laut menitipkan gelombangnya.
/2/
burung-burung bentangkan sayapnya mengabarkan
sepotong rindu yang seliat warna malam
maka, matamu akan berkabar tentang api
yang mengabu karena dicekam sepi
gelisah yang menggumpal jadi pecahan-pecahan karang
dan rindu itu berlumut di sana jadi prasasti: tentang gairah gelombangmu.
sekejap aku tulis puisi-puisi
mengusung segenap kosa kata tentang rindu itu
lantas mengabadikannya jadi mantra-mantra gaib.
***
Kepada yang Bernama Cinta (1)
Kepada siapa kita berjalan mendekat?
Ke arah mana kita hanyut bersama pasir?
Ia menjadikan kita cuma dari sekedar lempung disusun seperti puzle
mainan kanak-kanak yang bisa tumbuh dan berkembang namun rentan
menuju remuk menjadi serpihan kayu di kuburan dimakan ngengat
kita akan berjalan mengendap-endap ke utara.ngeri dan was-was
menerka takut dan cemas ditebas dari depan atau ditikam di bokong
tak bisa kita berlari menjauh dari mata yang mengintai di balik utara itu
menanti dengan birahi menyala
tak bisa tidak kita harus berjalan mendekat ke arahmu
walau tak bisa diterka hanyut ke arah surga atau neraka
***
-ngawi-kedung dani-
Kepada yang Bernama Cinta (2)
Bagaimana aku harus menyebut dan menyapamu?
lidah akan pasti kelu saat bersua
sedang setiap lezat menajam di ujungnya
nikmatmu tak hanya menggumpal di urat lidah
namun juga akan meresap ke dalam sel-sel kelenjar tubuh
seperti nikmat cinta yang lepas saat mata saling berkerling
hanya sekilat di puncak sekedap
Dan di peluk erat lekat kudekap kau: gelombang puncak hebat yang nikmat!
***
-ngawi-
Tjahjono Widarmanto, penyair yang tinggal di Ngawi. Buku puisinya yang telah terbit di antaranya Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak (2016), Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018) dan Bersepeda dari Barat ke Utara sampai Tulang Rusukku Tumbuh Bulu (2021). Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di SMA 2 Ngawi.