Cerpen, edisi 379 Juni 2024

27 Juli, 15.35 WIB
Pintu digedor-gedor serupa irama drummer yang sedang menggila. Nai menatap nanar dinding kamarnya. Suara dari luar kamar tidak ia hiraukan, seperti angin lalu yang tidak penting. Tatapan kosong itu membiaskan senyum pedih, tangannya meraba-raba nakas menjatuhkan vas bunga, cermin dan buku di atasnya. Gerakan itu berhenti begitu menemukan paku tembaga sepanjang jari manis.

“Nai… Nai…” teriak seorang dari luar kamar.

Nai mengenal suara itu, pernah amat dekat hingga nyaris menjadi separuh jiwanya. Sejak siang tadi tekad Nai sudah bulat, ia akan membuang dirinya menjauh dari suara itu. Suara yang awalnya sehalus satin lembut yang begitu membuai dan perlahan berubah kasar tak berdampak apapun selain menusuk dan menghancurkan hatinya.

Simfoni dari daun pintu itu tak lama kemudian berubah menjadi hentakan kasar, pintu berusaha didobrak dari luar. Kursi dan rak kayu yang sengaja disusun untuk menyangga pintu mulai bergetar. Nai bergeming, hanya fokus pada denyut jantung di lengannya.

Cairan merah kental menetes ke kakinya bersamaan dengan rak yang roboh dan pintu berhasil didobrak dari luar. Tangan kiri Nai menjulur dengan darah sederas air hujan sementara paku tembaga itu terlepas dari tangan kanannya. Matanya mulai berkunang-kunang, senyum merekah di bibirnya. Senyum hambar yang menyudahi sakit dan luka serta menutup usianya.

10 Mei
“Hujan ini menyenangkan,” tangan Nai terulur menikmati tetesan air setelah berlari menerobos hujan membuat seragamnya basah kuyup. Ia menaungi kepalanya dengan sebuah buku di bawah pohon akasia.

“Menyenangkan jika lembut. Kenapa kau menerobosnya saat deras?”

Seperti hantu yang entah muncul dari mana, lelaki berambut cokelat pekat itu berdiri di belakang Nai. Spontan Nai menggeliat dipeluk tiba-tiba dan merapatkan kelopak matanya.

“Nai, lihat aku,” nada perintah itu terdengar begitu sendu.

Nai menggeleng kuat sambil meraba wajah bak rembulan di belakangnya tanpa menoleh. Menelusuri setiap sisi wajah itu, wajah tampan yang selalu dirindukannya setiap malam.

“Aku sangat membencinya, suara yang terus mendesakku melukaimu,” gumam Nai.

“Aku punya seribu nyawa, itu bukan apa-apa, Nai,” bisik lelaki itu mengulang kalimat yang belakangan ini sering diucapkan. Nai gemetar ketika embusan napasnya yang harum dan hangat itu membelai telinganya.

Hujan terus menderas, membasuh luka hati Nai dengan air matanya. Cinta buta, itulah algojonya sekarang. Tak ada yang berbahaya dari sesuatu yang dicintai sampai tergila-gila karenanya.

“Nai, lihat aku,” kali ini lelaki itu memaksa, membalik tubuh Nai seolah rindu tatapan matanya. Tapi Nai menunduk dan merapatkan bola matanya. Butiran bening itu menetes di pipi mereka berdua.

15 Januari
Semua terjadi begitu cepat, bermula dari tawa dan berakhir luka kehilangan.

Begitu cinta telah resmi bertaut dan tersebar, restu semua teman hingga siswa satu sekolah. Hanya satu orang cemburu, amat cemburu, seorang yang sejak awal menyukai Nai. Sepupu Nai, teman les Nai sedari kecil yang cerdas. Sudah lama sikap dan prilakunya yang overprotektif membuat jengkel banyak orang termasuk Nai sendiri, meski minus dia yang kurang dipedulikan, Nai tetap populer dan banyak teman yang tulus menyayanginya.

Hanya Boy berani menjauhkan Nai dari sepupunya itu. Cowok berambut cokelat pekat itu mendekati, bercerita dan mendengarkan Nai. Boy memberi Nai rasa aman yang menyenangkan. Api kemudian membara di hati sang sepupu melihat sikap romantis Boy, menghidupkan jiwa psikopatnya sampai malam itu.

Lampu redup dengan lantunan musik lembut adalah awal dari banyak goresan luka di tubuh Boy. Di bawah keremangan cahaya dan musik yang begitu memikat, Nai merasakan sesuatu yang menerobos pertahanan jiwanya. Nai menggeliat, seolah mencegah sesuatu yang buruk terjadi namun dia terlalu lemah setelah selalu dilindungi oleh sepupunya, tubuhnya tak mampu menolak.

17 Januari
Boy dua hari tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.

Begitu sadar, yang pertama dicarinya adalah Nai. Masih terekam jelas di benak Nai teriakan teman-temannya kala itu. Darah dari pinggang Boy mengotori lantai ruang kelas yang putih.

“Nai, apa yang kau lakukan?”

Entah siapa yang meneriakkannya karena seisi ruang kelas segera histeris termasuk guru. Nai menggenggam belati yang kini menancap di pinggang Boy. Saat itu juga mata Nai berkunang-kunang. Itulah tusukan pertama.

22 April
Boy bertahan selama mungkin, ia tak mau masuk rumah sakit. Hingga tiga bulan berselang, ada banyak tusukan di sudut-sudut tubuhnya.

Petang itu, parang berkarat berkelebat di depan dadanya, Boy segera menangkis hingga lengan kanannya kembali nyeri. Warna merah itu seperti tak pernah berhenti, terus membias di seragam Boy seolah Boy menderita hemofilia, menderas sederas air mata Nai.

Boy tersenyum tanpa meringis, menarik tubuh Nai dan memeluknya. Kembali membisikkan kalimat itu, “Aku punya seribu nyawa untuk menahan rasa sakit,”

Tapi gadis mana yang senang membiarkan itu terjadi. Telah banyak insiden yang terjadi. Nai hanya bisa menangis, tak bisa melawan ketika tangannya dikendalikan untuk terus menyakiti Boy yang lambat laun menjadi teror tak tertahankan bagi orang tua Boy.

24 Juli
Senja merah yang indah, namun yang dilihat adalah luka dan perasaan pedih. Warna senja yang jingga, mengingatkan pada warna darah. Kenangan pahit itu, terus mengalir seumpama sungai kecil dalam pikirannya. Matanya tak lepas memandang senja yang kian indah, bertabrakan dengan suasana hatinya yang gundah.

“Pergi dan jangan temui aku lagi,” ucap Nai begitu yang dinantikan datang. Wajahnya tak berpaling sedikitpun dari arah senja.

“Aku bukan lelaki seperti itu, tidak akan pernah,” jawab Boy lirih. Namun nadanya penuh keyakinan.

“Aku tak cukup kuat untuk benas dari ini, aku tak mau terus menjadi sebab makin banyak luka di tubuhmu.”

“Itu bukan apa-apa, seiring waktu akan sembuh,” Boy berusaha tersenyum.

“Aku tak mau itu terus terjadi. Meski kau meyakinkanku seribu kali, ini bukan tentang dirimu lagi.” Saat itu juga Nai mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, membuat Boy kaget dengan menggores lengan kirinya.

“Nai…apa yang kau lakukan?”

“Jangan mendekat…” butiran bening menyeberangi pipi Nai “…jika kamu boleh terus terluka, mengapa aku tidak boleh merasakan sakit yang serupa?”

“Kumohon, jangan temui aku lagi. Aku mencintaimu,” ucap Nai lalu berjalan pergi.

Boy bergegas mengejar Nai, cintanya. Namun Nai segera mengangkat tangan kirinya yang luka dan mengancam serius, “Kan kusayat lagi jika kau mengikutiku….”

Boy membatu dengan deraian luka di hati kebalnya.

27 Juli, 15.35 WIB
Nai tak muncul di sekolah, tak datang ke klinik jiwa, juga tak terlihat di madrasah. Dia mengurung diri di kamarnya, menghalangi pintu terbuka dengan tumpukan kursi dan rak kayu. Boy terus menggedor pintunya, sampai Nai kehabisan tenaga untuk menyuruh diam.

“Nai… Nai… Nai…” suara itu membahana, dari yang semula lembut menjadi kasar dengan penuh nada kekhawatiran.

Begitu pintu berhasil didobrak, kepala Nai sudah terkulai di atas bantal dengan senyum bahagia.

Tangis Boy pun pecah.
***

Dea Renaizah lahir di Probolinggo. Belajar dan bersekolah di pesantren yang dibangun oleh ayahnya sendiri. Histori pendidikannya lumayan kacau, pendengarannya tidak normal pasca sakit DBD parah saat usianya sembilan tahun. Hanya memiliki ijazah Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjut Tingkat Pertama. Akun
media sosial Dea Renaizah (FB) dan alhazhal (IG).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *