Puisi, edisi 379 Juni 2024
marlena, di sini,
di laut yang mulai tercemar ini,
kerap kudengar jerit camar
dengan telapak kaki berdarah.
mataku menatap,
sebelum perahu menepi
juga sebelum cinta dieksploitasi.
dinding hari nyaris terbatas
membawaku pada pasir
yang terasa seperti duri alas.
–senja pun mulai raib,
di antara magrib
dan di hadapan nelayan
yang gagal menjaring harapan–
maka, marlena, jika pada suatu hari
gelombang ini mendadak berhenti
menyentuh gugusan karang
maka, kita juga harus siap
meratapi bermacam bencana kecemasan
tanpa pelukan sebagai suaka; di masa depan.
***
Yogyakarta, 2024
Setelah Bendera Dikibarkan
; Untuk Wiji Thukul
kami hanyalah tiang
yang sengaja dilupakan
setelah bendera dikibarkan.
***
Yogyakarta, 2024
Memorabilia
perahu itu menepi
ke ujung dermaga
menjumpai darat
dari arah selat.
ada sejumlah kenangan
masih lekat tercatat
di antara terumbu karang
dan asin peluh nelayan.
di atasnya,
bulan melelehkan serbuk cahaya
seperti ciuman yang luntur
karena benturan bermacam kultur.
angin dari berbagai penjuru
mengirim bayang-bayang masalalu
dan kini, cuma rindu yang tersisa
pada palka perahu itu.
Tuhan, mengapa kita terbatas
di antara waktu yang cepat bergegas
meninggalkan jejak kesunyian?
***
Yogyakarta, 2024
Agus Widiey, lahir di Sumenep 17 Mei. Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Tulisannya tersebar diberbagai media, baik lokal maupun nasional. Pernah menjuarai lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021) Anggota komunitas Damar Korong, Sumenep. Saat ini bermukim di Yogyakarta. Email: aguswidiey@gmail.com