Di bundaran ini, tak banyak yang dapat kauperbuat
selain mematung.
Menyesap getah malam untuk dieja.
Lampu merah yang padam, meraba getar
dan kecemasan di lingkar mawar 
matamu.
Dalam diammu, telah kausaksikan:
pelintas binal—nakal, yang tak bosan    
menumpuk dosa di kantong baju.
Ia bergegas dikejar bayangan, ketakutannya
bukan yang lain.
Dan di trotoar, kepedihan masih berlanjut sampai pagi.
Yang menggambar peta hidup,
tak ada kehangatan dan selimut.
Selebihnya sunyi, 
seperti di padang rumput yang terbakar kemarau.
***
Indramayu, 2021

Dilarang Putar Balik

Di mana kautemukan perjalanan, amsal
batu menyambut: sisik aspal. 
Kota-kota menunggu.
Selamat jalan, lambaian mengantar
ke ujung, di mana mata tak mampu lagi menangkap.
Halte yang berangsur sunyi, hati yang bolong.
Mereka tak ingin melihat lagi, 
kau kembali—di sini.
Membuat laporan dan berita kegagalan, 
dari cerita duka nestapa.
Pada satu ruang, satu waktu.
Setiap kali, basuhan hujan 
adalah cara mencelupkan luka.
Juga ciuman, yang tak henti-henti meluncur
ke masa depan. 
Yang akan terus kau tatap, tanpa ada ratap, asal dari dekap.
***
Indramayu, 2021

No Smoking Area 

Lalu sebatang rokok kumasukkan
ke dalam mulut asbak,
mengunyah kehampaan.
***
Indramayu, 2021

Faris Al Faisal lahir dan berdikari di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021). Puisinya mendapat sejumlah penghargaan antara lain:
– Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia,
– Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika dan mendapat Piala bergilir Anugerah RD. Dewi Sartika, Bandung (2019),
– Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi,
– Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” diterbitkan Rumah Pustaka (2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *