Twelve Apostles, Port Campbell – Sitok Srengenge

Lauren Bain Di lautmu matahari menatahi terumbuangin bagai prana, bahasa di luar kata,jejak di pasir kikis sebelum gerimis reda Dari rimba jiwaku (kaudengar?) gelepar liar seekor bekisar,putik gairah di dasar kelenjar meletik menjelma kelepak camarDibimbing angin yang bagai prana, bahasa di luar kata,mengisari gelombangmu, matahari yang menatahi terumbudikulum kerang di ceruk bebatu Gerimis mencetak bercak […]

Mata Betina – Sitok Srengenge

Nin Michaelides Mata betina, lekuk teluk, rumpun leli meriapi tepi,genangan rasa rawan, beriak karena angin ringanSauh nelayanku bergetar, alunmu menggeliatkan sunyi,gelembung air bersembulan dari dalam cangkang kerang Sunyi dalam jiwaku dentang lonceng puncak menara batu,gaung kelepak keluang dan malam mengendus getah eukaliptus Kudengar denyar, samar, saat di tebing ombak pun rebah,datang jauh dari wilayah dalam […]

Malam Menyergapmu – Sitok Srengenge

Ghassan Zaqtan Malam menyergapmu dengan serbuk jelaga beracunPeziarah yang lelah, bersandar batang sikamor seratus tahunBaling-baling musim gugur berkesiurmenawarkan tidur Merinding, menahan dingindan pandang sepi orang-orang asingJiwa yang gelisah, pewaris abadi hari-hari remahRamallah Sepasang tupai melompat ke dalam sungai yang bekuTangan-tangan malam yang kekar berjuluran dari masa lalumenggali lubang dan mengubur matahari di tubuhmuSegala yang telah […]

Kenangan Scheveningen – Sitok Srengenge

Ada yang senantiasa melukisi daun dan buah,        lihat jejaknya menggaris di batuan tanahAku daun yang tanggal, terbasuh embun                     sebelum luruh dibantun taifunKau buah yang mengkal, tersepuh ranum         sebelum jatuh dikulum alum Kita tumbuh dari akar berbeda,meski mencecap air dari sumber yang sama      Aku datang dari perih yang diguritkan angin    dan angin mengibarkan rambutmu yang perak  Lihat tapaknya mengering di bangkai musim,                                  sebagian […]

Di Hamburg Sepi Menghambur – Sitok Srengenge

Kecuali kelam cuma angin compang-camping,       seusai sepi merajamkan sejuta taring       Hawa jekut bersalto di perut gelandangan,    bayang-bayang maut dari ghetto masa silam                      Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung,       lidahnya menjilati patung-patung di taman              Udara menggelepar, menanggung gaung,   menebar bau rawan peraduan                           Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi,                  sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi                     Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar […]

Tentang Penulis Edisi 23

Liston Siregar, tamat dari Universitas Diponegoro masuk Tempo sampai dibredel dan sekarang bekerja di BBC Siaran Indonesia. Sitok Srengenge, kini ikut mengelola jurnal kebudayaan Kalam. Kumpulan tiga antologi puisinya yang terbaru sudah diterbitkan ; Kelenjar Bekisar Jantan, Anak Jadah, dan Nonsens. Aktif membantu AJI waktu pembredelan Tempo, Detik dan Editor di jaman Suharto dulu. Sekarang sedang […]

Syair Musafir – Sitok Srengenge

    Serapuh manekin, seteguh fountain,kausepuh bara birahi tanpa acuh pada dingin Menara gereja menjulangkan syahwat,                                 St. Pauli lewat Tak ada natal putih,                     hanya reranting merintih                                     Salju seakan mangkir,tanah penuh bangkai daun              Tapi akan hadir seorang musafir,               kau menanti di ujung tahun                                                         Datang ia dengan kuntum selasih      di ranjang menyala kaukenalkan dirimu Kekasih  Di balik pintu maut menunggu                   dengan sepasang kuda waktu                Dalam […]

Di Hamburg Sepi Menghembur – Sitok Srengenge

Kecuali kelam cuma angin compang-camping,           seusai sepi merajamkan sejuta taring  Hawa jekut bersalto di perut gelandangan,bayang-bayang maut dari ghetto masa silam Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung,lidahnya menjilati patung-patung di taman             Udara menggelepar, menanggung gaung,                 menebar bau rawan peraduan   Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi,sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar […]

Memento Mori – Sitok Srengenge

Pada parasmu yang pucat        kubaca gurat isyarat:cambuk angin musim dingin,           perusuh yang kembalidengan sisa dengki laskar Stasi     Cahaya terkubur di kota yang tidur,anak-anak dan perempuan dari Timurmimpi sekerat roti dan seteguk anggur Sungguh, kausuguhkan padaku                            malam itu:      letus tulang di tungku krematoriumdan kuntum-kuntum gandum yang alum  Selebihnya selingkup selimut,selembut dan selembab kabut digetar guruh yang merontajauh di relung hutan cemara       Dan […]

Tentang Penulis Edisi 17

Sitok Srengenge, kini ikut mengelola jurnal kebudayaan Kalam. Kumpulan tiga antologi puisinya yang terbaru sudah diterbitkan ; Kelenjar Bekisar Jantan, Anak Jadah, dan Nonsens. Aktif membantu AJI waktu pembredelan Tempo, Detik dan Editor di jaman Suharto dulu. Maria Pakpahan, anak antropologi UGM yang menjadi pegiat perempuan dan mengambil program MA Development Studies ke Institute of Social Studies, Belanda. […]