Serenade Rindu – Tjahjono Widarmanto

Puisi, edisi 378 Mei 2024 /1/ lelahkah kau setelah mencatatkan jejakmu pada paruh matahari? maka rebahlah di pangkuanku seperti awan rebah di bulan yang basahatau seperti embun malam yang rebah di daun dan reranting pohon rebah. rebahlah. akan kudongengkan kembali hikayat-hikayat purbatentang seonggok cinta yang selalu biru menyanyikan rindu yang gelisah dan cemas rebah. rebahlah. […]

Perjalanan Doa – Ilham Wahyudi

Puisi, edisi 376 Maret 2024 seorang dermawan yang mendatangi markas besar duka lara tidak pernah terkejut kala menemukan gelas kering kerontang; dibukanya kran penutup wadah, dan mengalirlah apa yang patut dan mesti mengalir. Dia tidak takut kering?  tanah kering yang merindukan benih itu tak sekalipun mengada-ngada ketika melayangkan doa ke langit terik; direntangkannya tangan dan […]

Memanggil Hujan – Zakiyyatul Fuadah

Puisi, edisi 376 Maret 2024 ketika tanah retak,perigi padam,sungai kerontang,masih bertanyakah kalianapa itu kesedihan? tak ada kesunyian tersimpandalam tempurung kepalakuhanya mantra-mantra tergelincirmemecah getir takdiryang membeku di lorong hujan o, dewi srilihat sekujur tubuhkupenuh bunga-bungaperantarabagi kidung malangsedang keringat malamtelah mengembun dari lengan-lenganyang mengayunkan tubuhku setelah harapan demi harapanmenubuatkan takdir kampung halamanangin berdesakan,bulan pucat ditelan awan berarakjuga […]

Food Estate – Anwar Makatengnga

Puisi, edisi 375 Februari 2024 Tirai kabut menutup cakrawala, cahaya telah pulangKadar berdiam di antara bukit tertidurCangkul dan parang adalah doa yang diasah untuk segala tarung dalam segala medan. Aku mendapati ketiadaan pada jalan-jalan terjal berbatu menuju rumahTempat harap ditangkup diantara tebing dan batu yang beranak pinak sejak dulu kala.Dimatamu jagung menghijau,Di ladang tempat kita […]

Lagu Bulan Desember – Khalil Satta Elman

Puisi, edisi 375 Februari 2024 di antara kelindan angin sisa kemarau, kita mulaimencatat kenangan yang pelan-pelan dihapus rintik hujanangka-angka pada kalender kemudian gugur pada dadakita memungutnya sebagai apologi air mata detik demi detik menuliskan nama-nama masa lalu.dengan seribu tangan kerinduan, kita menabuh damaruuntuk sekadar merayakan yang hendak bepergiantiba-tiba kesedihan menjadi paling sungai di kaki perbukitan […]

Kota Ditinggal Waktu – Muhammad Solihin Oken

Puisi, edisi 374 Januari 2024 1Kota ditinggal waktu dan gagal menikah dengan kupu-kupu kunang-kunang berang-berang- laron-laron  memangil-manggil, sayapnya mengitari ruang-ruang kota Kota kehilangan waktu- jarum jam tiarap di angka biru perempuan sembunyi di laut kenangan Masih ada matahari pagi? Kota ditinggal waktu- senyap senyap senyap ada pesan singkat pada surat email dari kupu-kupu kunang-kunang berang-berang […]

Rumah yang Hilang – Alexander Robert Nainggolan

Puisi, edisi 373 Desember 2023 hanya sebagian perjalanansaat engkau diammeminang ingatan yang remangtapi tangan ayah dan air mata ibuterasa seperti tusukan di jantung hati terasa sia, kau mengoyak masa kanakhanya terdengar di kejauhansuara teriak***2023 Batas Kata masih adakah batas kata, saat puisi-puisi telah beranjak dewasa. dan engkau tak lagi bisa menuntunnya selayak kanak-kanak. dengan matamu […]

Ketika Kita Kata – Sitok Srengenge

Puisi, edisi 372 November 2023 Ketika aku merindukanmu kuputar lagi lagu-lagu langut itu,larik-larik lirik perihal hati, udara, tanah, air, api.Mungkin karena kau musik,harmoni bunyi yang selalumengisi senyapku.Kau desau ketika aku angin,ricik ketika aku air, gemaketika aku ruang hampa. Kau bunyi dan aku makna,hanya jika bersama kita jadi kata. Kadang aku bertanya: demi apa rindu dicipta?Agar kita tak […]

Suluk Sidhayatra (1) – Tjahjono Widarmanto

Puisi, edisi 371 Oktober 2023                                    guru, di api mana aku bisa mencuci diri? jalan ini tak pernah susut sedang tubuhku kian kusut terluntamenerka peta sambil memegang kitab sajak-sajak rahasiasegala otak kubedah, segenap warung dan rumah jalang kutandangselalu saja cuma jadi penyair yang keliru menafsir semiotikasampai ujung lidah kelu mengeja aksara dan menerka bilangan                                    guru, sungguh […]

Senin – Ilham Wahyudi

Puisi, edisi 370 September 2023 Entah dari mana mula kisah tentang kau yang pemalas dan pengeluh. Sehingga ramai belaka yang membenci corak batikmu; cerah perawakanmu. Bahkan lancang pula menyepadankan kau pada kusut benang tidak terurai. Padahal sungguh, betapa adiluhung kau di hadapan Sang Kekasih, manakala keanggunanmu dipilihNya sebagai selimut kelahiran pembawa cahaya. Lihat, tak sedikit […]