You-Topia – Said Kusuma

Puisi, edisi 382 September 2024 pada secarik kertas yang terbuat dari celana dalammu, aku tekun menulis novel tentang masa depanberjudul Masa Bodoh. ditemani beberapa seloki whiskey bersayap yang menghadirkan peri-peri butadalam kepala. entah bagaimana caranya terbang tanpa mata, tapi mereka mahir melakukannya sambilmembinasakan mimpi. ; inilah arena peri kemanusiaan kami. aku jadi kesulitan menciptakan konflik […]

Diundang Sang Pemilik Surga – Yessita Dewi

Catatan, edisi 382 September 2024 28 May 2024 malam 20.00 WIB, saya terbang dari Bandara Soekarno Hatta untuk ibadah haji. Penerbangan panjang selama 9 jam dan perbedaan waktu 4 jam lebih lambat dari Indonesia tidak menyurutkan semangat, seperti halnya para jamaah lain dalam rombongan meski kantuk terus menghantui. Dan lelah yang tersisa dari perjalanan panjang juga […]

Monumen Keadilan – Edhie Prayitno Ige

Catatan, edisi 381 Agustus 2024 Di kampung Isar tinggal seorang koruptor yang tertangkap tangan dan sudah selesai menjalani sidang. Ia memang jagoan, peristiwa apapun selalu saja bisa mempergemuk pundi-pundi uangnya. Ulahnya itu membuat warga menjadi geram. Mereka berdoa dan mengutuk agar sang koruptor cepat mati. Berbeda dengan koruptor pada umumnya yang fokus menggasak uang negara, […]

Yang Redup Lalu Membara – Rinanda Tesniana

Cerpen, edisi 381 Agustus 2024 Perempuan serupa akar yang menancapkan kuku tajamnya ke tanah untuk memberi kehidupan pada ranting dan daun yang menumbuhi batangnya. Pun ibarat cahaya yang selalu muncul kala langit berubah gelap. Aku memanggilnya Mak. Sejak dua puluh tahun lalu, aku melihat Mak sebagai perempuan paling kuat. Kala itu tubuh Abah terbaring kaku […]

Siapa Yang Menyayangi Cikal – Syifa Aimbine

Cerpen, edisi 380 Juli 2024 Cikal menutup kedua telinga sekuat tenaga. Hingga buku-buku tangannya memutih. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ia meraung dengan suara tertahan di sudut kamar. Tempat paling tersembunyi, menurutnya, di rumah ini; tak akan ada yang bisa menemukannya. Namun, suara di luar tetap terdengar keras, seolah kedua orang di luar pintu bertengkar di dalam […]

Bagian Hujan yang Kautanam – Alexander Robert Nainggolan

Puisi, edisi 380 Juli 2024 hanya sebagian,bagian hujan yang kautanamtelah menjadi dongengtentang banjir nuhdan orang-orang merangkakdalam dingin yang sunyimeminta sebagian langit yang lainagar cerah esok pagi***2024 Di Cabang Jalan Menuju Kotamu bukit-bukit ingatan, telah lama tidurtahun merayaprindu gagap tapi masih adakah sebuah tekstentang sebuah alamat di layar ponsel?percakapan-percakapan lamaberguguranrapuh untuk disusunmenjelma getahciuman juga pelukan yang […]

Kuliah. Memasang 1.237 Chip Handphone – T. Wijaya

Puisi, edisi 379 Juni 2024 Pukul 05.00. Alarm menggergaji telinga. Bukan gempa. Melepas pakaian. Menjadi bebek di kamarmandi. Kereta, bus, taksi, sepeda, dan kaki menuruni bukit. Berlari mengejar pabrik. Ibu dan ayahberdoa. Kuliah. Memasang 1.237 chip handphone. Pukul 12.00. Alarm mengistirahatkan kota. Bukan gempa. Berebut melepas pakaian. Menghempas pintuloker. Berlari. Meneguk nasi. Lalu tidur yang […]

Rinai Luka – Dea Renaizah

Cerpen, edisi 379 Juni 2024 27 Juli, 15.35 WIBPintu digedor-gedor serupa irama drummer yang sedang menggila. Nai menatap nanar dinding kamarnya. Suara dari luar kamar tidak ia hiraukan, seperti angin lalu yang tidak penting. Tatapan kosong itu membiaskan senyum pedih, tangannya meraba-raba nakas menjatuhkan vas bunga, cermin dan buku di atasnya. Gerakan itu berhenti begitu […]

Melankolia: Laut Nusa – Agus Widiey

Puisi, edisi 379 Juni 2024 marlena, di sini,di laut yang mulai tercemar ini,kerap kudengar jerit camardengan telapak kaki berdarah. mataku menatap,sebelum perahu menepijuga sebelum cinta dieksploitasi. dinding hari nyaris terbatasmembawaku pada pasiryang terasa seperti duri alas.  –senja pun mulai raib,di antara magrib dan di hadapan nelayanyang gagal menjaring harapan– maka, marlena, jika pada suatu hari gelombang ini […]

Serenade Rindu – Tjahjono Widarmanto

Puisi, edisi 378 Mei 2024 /1/ lelahkah kau setelah mencatatkan jejakmu pada paruh matahari? maka rebahlah di pangkuanku seperti awan rebah di bulan yang basahatau seperti embun malam yang rebah di daun dan reranting pohon rebah. rebahlah. akan kudongengkan kembali hikayat-hikayat purbatentang seonggok cinta yang selalu biru menyanyikan rindu yang gelisah dan cemas rebah. rebahlah. […]