Pawai Menuju Alifakovac – Yuliyatul Unsiyah

Puisi, edisi 390 Mei 2025 Kota ini seluruhnya sudah menjadi artefak, Delisa.meja makan berantakan dihinggapi debu.yang tersisa hanya bekas gincu.dan aroma tubuhmu di pundakku. Perjalanan ini menghabiskan lima liter peluh, Delisa.Alifakovac tetap menyala dihimpit banyak kepala. Malam adalah hantu.menakut-nakuti saban jemu.dalam rekaman kepala- kita ini begitu asing.demam, seketika aku teringat Malingping.yang memberi teduh.dalam sisa perjalanan […]

Suara Janda Malang – Zakiyyatul Fuadah

; buat amir biki Puisi, edisi 388 Maret 2025 semacam kutukan tuhan yang abadiaku terkepung dalam sedih dan kecewakeadilan tak ubahnya perlombaan yang sulit dimenangkan, biki di sini, di kampung priok yang damaiaku janda yang kesetiaannya terjaga meski angin sakal dari tenggara mengempasdan ombak masih menerjang pada dermaga ini, bikisuaraku masih lantang menyuarakan kebenaran***Yogyakarta, 2025 […]

Tangis Pertama di Tepi Sungai Musi – T Wijaya

Puisi, edisi 387 Februari 2025 Palembang basah. London dingin. Aku lahir. Ian Gillan meratap; Sweet child in time. You’ll see the line. The line that’s drawn between. Good and bad. Sungai Musi memasuki 9.344 tahun. Aku menangis. Kudengar Nyimas Halimah menggadaikan giwang leluhurnya. Seperti melompat. Ikan-ikan terbang. Terlihat baik, dan mungkin buruk. Palembang lapar. London […]

Tabuhan Laut – Khalil Satta Èlman

Puisi, edisi 384 November 2024 pulau-pulau disepah kabut, hanya angin bergaram tersisa dan derak terakhir camar-camar beranjak dari pagar besi kapal. laut adalah kuburan terpanjang bagi kenangan ramuan bagi luka menganga. aku berharap kau tak memberi tanda bagi setiap kesedihan yang datang tiba-tiba. sebab, di tanganmu yang retak musim kelewat berkarat. tak ada kangen awet di sini, semuanya serba membusukkesepian […]

Birokrasi yang Tajam – T Wijaya

Puisi, edisi 384 November 2024 Kita tumbuh dalam birokrasi yang membunuh abah dan ibu. Senjata api terus berjaga di sekitar kepala.Diam-diam mencari pisau di kampung dan sekolah. Membedah perut-perut di kolong rumah dan lorong-lorong pucat. Tahun-tahun yang membakar. Katamu, pendidikan itu sekrup industri. Tidak ada jaminan meskipun lidahmu dicap lambang Pancasila.Harapanmu menolak kampus, berlari ke […]

Memorabilia yang Lain – Agus Widiey

Puisi, edisi 383 Oktober 2024 aku akan mengenangmu, alenasebelum senja ini selesaimewarnai pelupuk mata. di antara terumbu karangkesunyian telah kubentanglewat ketam bayang-bayang. di sini, alenakukenang kembali pulau dan nelayanyang asin dan yang mulai asing. karena segalanya mesti berakhir,termasuk matamu dari mata penyair,maka, kusimpan rindu yang amis itupada bait sajakku; dari waktu ke waktu***Yogyakarta, 2024 Di […]

You-Topia – Said Kusuma

Puisi, edisi 382 September 2024 pada secarik kertas yang terbuat dari celana dalammu, aku tekun menulis novel tentang masa depanberjudul Masa Bodoh. ditemani beberapa seloki whiskey bersayap yang menghadirkan peri-peri butadalam kepala. entah bagaimana caranya terbang tanpa mata, tapi mereka mahir melakukannya sambilmembinasakan mimpi. ; inilah arena peri kemanusiaan kami. aku jadi kesulitan menciptakan konflik […]

Bagian Hujan yang Kautanam – Alexander Robert Nainggolan

Puisi, edisi 380 Juli 2024 hanya sebagian,bagian hujan yang kautanamtelah menjadi dongengtentang banjir nuhdan orang-orang merangkakdalam dingin yang sunyimeminta sebagian langit yang lainagar cerah esok pagi***2024 Di Cabang Jalan Menuju Kotamu bukit-bukit ingatan, telah lama tidurtahun merayaprindu gagap tapi masih adakah sebuah tekstentang sebuah alamat di layar ponsel?percakapan-percakapan lamaberguguranrapuh untuk disusunmenjelma getahciuman juga pelukan yang […]

Kuliah. Memasang 1.237 Chip Handphone – T. Wijaya

Puisi, edisi 379 Juni 2024 Pukul 05.00. Alarm menggergaji telinga. Bukan gempa. Melepas pakaian. Menjadi bebek di kamarmandi. Kereta, bus, taksi, sepeda, dan kaki menuruni bukit. Berlari mengejar pabrik. Ibu dan ayahberdoa. Kuliah. Memasang 1.237 chip handphone. Pukul 12.00. Alarm mengistirahatkan kota. Bukan gempa. Berebut melepas pakaian. Menghempas pintuloker. Berlari. Meneguk nasi. Lalu tidur yang […]

Melankolia: Laut Nusa – Agus Widiey

Puisi, edisi 379 Juni 2024 marlena, di sini,di laut yang mulai tercemar ini,kerap kudengar jerit camardengan telapak kaki berdarah. mataku menatap,sebelum perahu menepijuga sebelum cinta dieksploitasi. dinding hari nyaris terbatasmembawaku pada pasiryang terasa seperti duri alas.  –senja pun mulai raib,di antara magrib dan di hadapan nelayanyang gagal menjaring harapan– maka, marlena, jika pada suatu hari gelombang ini […]