Hartanto, Bedil, dan Matinya Mimpi Menjadi Jenderal – Indah Fai
Pada musim kemarau tahun lalu, ketika angin gersang bertiup mengacau debu, dedaunan kering, dan sampah plastik di tepian jalan, ayah Hartanto meninggal setelah memakan sewajan tumis jamur tahi sapi. Tidak ada tanda-tanda kematian yang biasanya menyertai perilaku atau ucapan calon mayat yang berkesan pada ayah Hartanto, kecuali bahwa ia berpikir ia adalah seekor elang yang […]
Bola Api Tengah Malam – Rumadi
Bola api melayang di udara. Berkitar-kitar membuat cemas seluruh penduduk desa. Setiap laki-laki mengintip dari celah lubang pintu atau celah dinding bambu, berharap-harap cemas semoga bola api tidak turun ke rumah mereka. Tak ada bayi yang tidur nyenyak. Mereka menangis dalam pelukan ibunya. Tangis mereka bersahutan nyaring, seolah saling bergaung, menjawab, dan bercerita kegetiran di […]
Para Suara Bintang – Ni Wayan Wijayanti
“Aku sedang mencoba cara membuat dirimu kembali di dalam pikiranku yang sudah buram tanpa ada kenangan tentangmu. Sepertinya aku amnesia, atau memang kenangan itu tidak aku anggap penting lagi? Setiap kali aku melihat Scorpion, gemamu seakan datang bagai riak di pesisir. Berdebur halus namun sulit aku raih. Ibu.” Aku menutup buku yang sejak tadi habis […]
Harimau-Harimau – Jenny Seputro
Aum harimau itu terdengar nyaring, bahkan sebelum aku membuka mata di pagi yang sejuk. Ingin rasanya ditelan bulat-bulat oleh dunia mimpi, agar tak perlu bangun untuk mendengar lengkingan yang memekakkan telinga seperti itu. Ah, tidak, aku belum ingin mati. Ribuan orang masih membutuhkan jasaku, mengurus premi asuransi mereka. Lagipula, sesekali aku menikmati perasaan seperti dewa, […]
Lucifer di Moncong Revolver – Rayi El Fatih
Sejak pertemuan kali pertama kami, aku sangat ingin membuat dua atau tiga lubang di kepala kecil perempuan itu—Agni. Namun, aku tidak tega untuk mengusik ketenangan pria bermata redup di sudut sana dengan pekikan Revolver. Pria semacam itu biasanya tengah melarikan diri dari gaduhnya rumah dan mulut wanitanya. Beberapa kawanku doyan seperti itu. Menyendiri di kafe […]
Di Bawah Pohon Asam – Tjak S Parlan
Mata Aisyah berbinar mendapati polong-polong buah asam yang tergeletak di antara rerumputan kerdil. Pohon asam itu berbuah lebat dan angin kencang selalu mudah menjatuhkan buahnya yang sudah matang. Aisyah bergegas memungutnya sebelum kemudian memamerkannya kepada Badri, laki-laki 60-an tahun yang tengah suntuk menjalin jaring ikan—jaring itu robek di sana-sini akibat tersangkut terumbu karang. “Kek, lihat […]
Mutiah Kecil, Mutiah Muda, dan Nyak Mut Sepuh – Finka Novitasari
Perempuan itu menyipitkan mata begitu gendang telinganya menangkap suara gemuruh berduyun-duyun. Deru iring-iringan pesawat terbang mendegam-degam tatkala melintas tepat di atas tempatnya berjongkok. Di antara dua tembok berjarak satu setengah meter yang mengapit tubuhnya, ia menggiring kawanan burung besi itu hingga tak terjangkau oleh mata lamurnya. Ia lemaskan kedua tangannya sebelum menyeka keringat sejenak, lalu […]
Ia Menatapku Penuh Dendam – M Arif Budiman
Mulanya aku tak peduli dengan sepasang mata itu. Pemiliknya seorang gadis berwajah pucat kesi, yang menggambarkan kebekuan mendalam. Aku mulai tertarik ketika ia terus memandangku dengan sorot mata tajam. Mata kami beberapa kali saling beradu. Namun beberapa kali pula aku mengedip. Aku kalah. Bahkan terakhir kali, mataku seakan terseret ke dalam sorot matanya yang serupa […]
Perempuan di Loteng – Linggar Rimbawati
Di loteng rumah Nyai tinggal seorang perempuan. Kata orang-orang dia setua Nyai dan merupakan saudara nenekku itu. Tetapi, kata ibu, perempuan di loteng sudah ada sejak masa kecil Nyai. Dan bukan tidak mungkin sudah ada bahkan sebelum Nyai lahir. Kau bisa bayangkan betapa tuanya perempuan itu? Sejak satu per satu anaknya meninggalkan rumah dan Datuk […]
Surat Elektronik Pria Pandemi – Ilham Wahyudi
Kawan kerja semasa tinggal di kota kelahiran dulu mengirim surat elektronik, tentang PSBB di kotanya serta karantina wilayah selama tiga bulan belakangan. Imbasnya ia dirumahkan dengan gaji dipotong 50 persen. Saya manggut-manggut saja, cerita yang sudah jamak terdengar sambil tertanya-tanya, kenapa pakai surat elektronik, bukan WA. Berikutnya yang membuat saya terperanjat, tentang peraturan jaga jarak […]