Equilibrium – Sitok Srengenge
Puisi, edisi 369 Agustus 2023 Perempuan itu muncul di ambang undakan batu, di senja yang masygul menjelang Sabtu. Ia serahkan sebungkus bibit bunga, “Tanamlah, mumpung musim masih basah.” Lelaki itu tahu, tak jauh dari situ hujan menderu. Angin melirihkan suaranya di tikungan tebing cadas, meluruhkan dedaun kuning dan di ufuk hari berkemas. Bayang-bayang bergerak di […]
Dermaga Yang Asing – Tjahjono Widarmanto
Puisi, edisi 368 Juli 2023 ini dermaga yang asing. bukan tanjung perak atau bakauhenitak ada lambai tangan, tak satupun pengantar. tak ada kecupantak juga feri kembali hanya angin menampar-nampar buritanhanya lokan-lokan tertinggal di pasir. tak satu pun nelayan menarik jala langit serba merah meyimpan bilik-bilik rahasia. tempat sembunyi mataharihanya ngeri tak berkata apa-apa. bau keringat […]
Ladang Pembantaian – Aliurridha
Puisi, edisi 367 Juni 2023 ini bukan ladang pembantaian. bukan juga lapang permainan. tapi di sini tubuh-tubuh rubuh. terjatuh dari sarang. para pembunuh tertawa riang. itu yang ditangkap mata orang luar. melihat kami dengan senapan di bahu. memburu yang tersisa dari alam. memburu yang tersisa dari malam. kami tidak bohong menyukai pembunuhan. tidak berkata itu […]
Silam – Ilham Wahyudi
Puisi, edisi 366 Mei 2023 Terlampau melarat pada cahaya membuatnya jauh dari sukacita. Bila namanya tersebut alangkah muram wajah jelita; pun jejaka. O, semua mata bertekuk lutut kepadanya kecuali beberapa yang bersayap serta beberapa yang memanjat. Di tubuhnya yang luas beragam rahasia terkubur rapi; banyak yang mencoba membuka namun banyak pula yang terjungkal sia-sia. Sungguh […]
Surah Cinta (5) – Tjahjono Widarmanto
Puisi, edisi 365 April 2023 tresnaku, tresnaku, mengapa kau tinggalkan aku? Lelaki itu menangis di bawah pohon kuldidan engkau, guru, masih saja mematungbahagia melihat mereka yang terlunta di halaman kitabmu, engkau menulis: surga itu tercipta bukan sebab cinta namun karena derita! Surah Cinta (6) aku meminta padamu, guru, sebatang pohon cinta yang abadinamun engkau memberiku […]
Warna Ujung Kota – Agus Sanjaya
Puisi, edisi 363 Februari 2023 Mata lampu jalanansudah dirampas kantuk,lalu akhirnya terpejam Tapi ujung kotamasih ingin berceritadengan beberapa warna I/Seorang bapak kaya,badan agak sempoyonganditopang oleh dua wanita di belakang bapak itu,seorang anak cukup bandelmendapat duit dengan sihirtanpa diketahui aksinya II/Seorang nenek lansiamengumpulkan kaleng-kalengdalam karung lusuhnya Sebenarnya ia ingin pulangke halaman rumah masa lalusebelum tangan jahat […]
Marina – Faustina Hanna
Puisi, edisi 362 Januari 2023 melambungmelambunglah marinaterbalut iklim burukpelupa takdir alam tinggaltinggallah keramba bumi merengsa gersangberisikan sisik tajam nan kelamjari jemari bernoda pekat ramai bermunculanselintas pandang menjamah konsep arsitekturderet bangunan megahtiada sengau akan pasang gelombangyang menghempas dermaga sendu berbaringberbaringlah marinaselagi sepertiga dosa bumi terlelaptelah sekian lama sengketa daratan lunakmutertidur pulasbukan sepenggal hasrat gerimis senjamelumat bibir […]
Aku Pejalan Kaki – Imam Khoironi
Puisi, edisi 360 November 2022 Aku pejalan kakiYang memungut huruf-hurufDari pagi yang bermain kabutpergi meninggalkan embunpada rumput yang mulai mengeringdan daun gugur yang ingin segera disemayamkansebelum proses kremasi Aku pejalan kakisebelum gelap melarikan dirimeninggalkan fajaryang kuinjak-injak sambil membawa gerobakberisi berita-beritatentang kemiskinan di kota,gelandangan merajalela,atau kematian seorang janda tuayang jasadnya sedang kubawa Aku pejalan kakiDi jalan […]
Sepasang Surat – M. Rifdal Ais Annafis
Puisi, edisi 360 November 2022 Aku persiapkan, katamu suatu kali, hari yang ungu ini untuk kusebuah langit, –tentu dalam cat biru, juga arak-arakan awan tipis,beberapa pohon dengan cabang nasib, dan dermaga kecil setelahlelah menyibukkan diri. Sebuah potret menyenangkan dari suarayang kau hafal. Kau barangkali berbakat menyimpan doa, tetapi setelah tekunberlatih membenci kata, bibirmu berhambur konsonan-konsonankecil […]
Menyimak – Jamaludin GmSas
Yang membacakulewat kicau burung yangmenuliskan suaranyapada sajak inihanyalah Ibuyang seribu tahunlagi ingin selalukusimak kata-katayang taktersampaikannya itu — karena terlalu sibukdengan kata-kataku.***Al Ikhsan, 2022 Secangkir Kosong Ada secangkir kosongyang berteduh di bawah air matadan bernaung di setiap amin—yang mampu menghapus segalacemas dan ingin. Ada secangkir kosongyang dipeluk mesra oleh ulah sepidan dielus tangan-tangan waktusupaya cepat tidur […]